CHF + CKD + Efusi Pleura + DM

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Gambaran Umum Penyakit

Ny. D berumur 56 tahun masuk rumah sakit pada tanggal 10 November 2010 dan ditempatkan di Lontara II atas kamar 5 kelas 3 dengan keluhan mengalami sesak  napas sejak + 1 bln SMRS, batuk +lendir serta pernah menjalani terapi OAD (DM tipe II Non-Obese) 3 th yang lalu tapi tidak tuntas.

Data Dasar Pasien

  1. 1. Identitas Pasien

N  a  m  a                               : Ny. D

U  m  u  r                                : 56 tahun

A g a m a                               : Islam

Berat Badan                          : 57 Kg

Tinggi Badan                                    : 155 cm

Tanggal Masuk                    : 10-10-2010

Alamat                                   : Taccipi Bone

Diagnosa Penyakit              : CHF NYHA II+CKD STG IV+HIPERTENSI GR II+EFUSI PLEURA BILATERAL+DM tipe II

Nomor Rekam Medik          : 447703

Dirawat                                  : Lontara II atas kamar 5 kelas 3

  1. 2. Data Subjektif
    1. a. Keluhan Utama

Batuk, edema seluruh tubuh, dan mual muntah.

  1. b. Kebiasaan Makan

Ä  Makan teratur, 3-4 kali sehari

Ä  Suka makan cemilan yang manis

Ä  Porsi makan pasien dalam jumlah besar

  1. 3. Data Objektif
    1. a. Antropometri

TB       = 155 cm

BB       =  57 kg

BBK    = 57 – 30%

= 39,9Kg

BBI      = 49,5 Kg

IMT      = 16,63  (Gizi Buruk)

  1. b. Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 1.    Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Interpretasi
Ureum 

Kreatinin

SGOT

SGPT

GDS

Protein total

Albumin

Pemeriksaan Urin

Protein

Blood

Lekosit

HGB

56 mg/dl 2,0 mg/dl 

14 u/d

12  u/dl

125 mg/dl

4,8 g/dl

2,2 gr/dL

500/+4

250/+5

500/+3

6,9 g/dL

10-50g/dL 

<1,3

<32 u/dl

<32 u/dl

140 mg/dl

6,0-8,4 g/dl

3,5 – 5 gr/dL

Negatif

Negatif

Negatif

12 – 14 g/dL

Tinggi 

Tinggi

Normal

Normal

Normal

Normal

Rendah

Positif

Positif

Positif

Rendah

TKK         :  140-U x BB / (Kreatinin X 72) x0,85

: 3351,6/144 x 0,85: 19,78 ml/menit     (N: >25 ml/menit)

  1. c. Pemeriksaan Fisik Klinis

Tabel 2.    Hasil Pemeriksaan Fisik / Klinis

Jenis Pemeriksaan Hasil
Keadaan Umum 

Tensi

Nadi

Respirasi

Suhu

BAB

BAK

Lemah 

130/90 mmHg

80

24

36,7°C

Encer + darah 5x sehari

Perkateter

  1. d. Riwayat Gizi

Tabel 3.    Daftar Menu Recall 24 jam sebelum intervensi

Waktu 

Makan

Menu Bahan Makanan Jumlah
URT Gram
07.00  

Bubur

Ikan Asin

 

Beras 

Ikan Asin

Minyak goreng

1/3 gls 

¼ ptg

1 sdm

20 

10

5

10.00 Teh 

 

Teh 

Gula pasir

Secukupnya 

1 sdm

10

12.00 Buah Mangga golek ¼ bh 50

Asupan zat-zat Gizi seharí sebelum intervensi

Tabel 4. Asupan zat Gizi sebelum intervensi

Energi Protein Lemak KH
Asupan 217,35 kkal 7,09 gr 5,43 gr 36,5 gr
Kebutuhan 1299,4 kkal 34,65 gr 36,1 gr 209 gr
% Kebutuhan 16,73 20,45 15 17,5
  1. e. Skrining Gizi

Tabel  5.  Hasil Skrining Gizi Terhadap Pasien

No Indikator Hasil
1 Perubahan BB
2 Nafsu makan kurang +
3 Kesulitan mengunyah/& menelan
4 Mual dan muntah +
5 Diare +
6 Konstipasi
7 Alergi/intoleransi zat Gizi
8 Enteral/parenteral
9 Hiperuremia
10 Kreatinin darah tinggi +
11 Ureum +

BAB II

PENENTUAN MASALAH GIZI

  1. A. Diagnosis Gizi
    1. 1. Domain Intake

Tabel 6.    Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Intake

Problem Etiologi Sign
@ Intake makanan kurang  

Kadar Albumin ↓

Protein Total ↓

Proteinuria

NI.2.1

 

Meningkatnya kebutuhan energi karena penyakit katabolik yang lama. 

 

Albumin: 2,2 mg/dl↓ 

Protein Tot: 4,8 g/dl↓

Proteinuria: 500/+4

Hasil recall 24 jam sebelum intervensi:

E: 16,73%

P: 20,45%

L: 15%

KH: 17,5%

NI-2.1 

Intake makanan dan minuman oral yang lebih kecil dibandingkan rujukan standar atau rekomendasi berdasarkan kebutuhan fisiologis yang disebabkan meningkatnya kebutuhan energi karena penyakit katabolik yang lama yang ditandai oleh gangguan absorpsi protein (Albumin: 2,2 mg/dl, Protein Total: 4,8 g/dl, dan Proteinuria: 500/+4) dan hasil food recall 24 jam sebelum intervensi E: 16,73%, P: 20,45%, L: 15%, dan KH: 17,5%

  1. 2. Domain Klinik

Tabel 7. Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Klinik

Problem Etiologi Sign
Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus 

NC.2.2

 

Gangguan fungsi ginjal dan jantung 

 

Ä  HGB : 6,9 gr/dL↓ 

Ä  Ureum : 56 mg/dl ­

Ä  Kreatinin : 2,0 mg/dl ­

Ä  Pemeriksaan urin:

Blood: 250/+5

Lekosit: 500/+3

Berat badan kurang 

Status gizi Buruk

NC.3.1

Intake makanan kurang IMT; 16,63 

Menolak makan karena mual+muntah

Sakit yang lama

NC-2.2 

Perubahan nilai laboratorium disebabkan gangguan fungsi ginjal dan jantung yang ditandai HGB: 6,9 gr/dL ↓, Ureum : 56 mg/dl ­, Kreatinin : 2,0 mg/dl ­ dan Pemeriksaan urin ,Blood: 250/+5 dan Lekosit: 500/+3.

NC-3.1

Berat badan kurang dari normal yang disebabkan intake makanan kurang yang ditandai dengan IMT 16,63, menolak makan karena mual dan muntah,serta sakit yang lama.

  1. B. Diagnosis Medis

CHF NYHA II+CKD STG IV+HIPERTENSI GR II+EFUSI PLEURA BILATERAL+DM tipe II

BAB III

RENCANA TERAPI GIZI

  1. A. Rencana Asuhan Gizi
    1. 1. Tujuan Diit

Memberikan makanan yang adekuat untuk :

1)    Mencapai status gizi optimal dengan memperhitungkan sisa fungsi ginjal, agar tidak memberatkan fungsi ginjal dan jantung

2)    Menurunkan kadar ureum dan kreatinin menjadi normal.

3)    Mengatur keseimbangan kadar cairan elektrolit untuk menurunkan odema.

  1. 2. Syarat Diit

1)    Energi disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan.

2)    Protein rendah yaitu 0.7 gr/kg BBI/hr

3)    Lemak sedang, 25% dari kebutuhan energi total.

4)    Karbohidrat cukup yaitu 64,33% dari kebutuhan energi total untuk mencegah terjadinya sesak.

5)    Natrium dan kalium dibatasi untuk mengurangi odema di seluruh tubuh

6)    Vitamin dan mineral cukup

7)    Garam rendah 2 gr/hr karena ada udema

8)    Bentuk makanan saring

9)    Cara pemberian oral

10)   3x makanan utama dan 2x makanan selingan

11)   Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas.

  1. 3. Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

E basal = 25 x BBI =25 x 49,5=1237,5

FU = -5% x 1237,5 = -61,88

FA = 10% x 1237,5 =123,8

E total = 1237,5-61,8+123,8 = 1299,42

Protein  =0,7 x 49,5 = 34,65 ->10,67%

Lemak  =    = 36,09  gr

Karbohidrat=   =208,98gr

  1. 4. Rencana Motivasi dengan Penyuluhan Konsultasi

Dengan melihat kondisi pasien maka diberikan motivasi dan edukasi agar pasien bisa mengubah pola makan yang baik dan benar untuk mencapai berat badan yang sesuai dengan standar dan mencapai status gizi yang normla. Adapun rencana untuk memotivasi pasien adalah dengan metode penyuluhan/ konsultasi yang bertujuan untuk memberi informasi/edukasi kepada pasien dan keluarganya tentang diet yang tepat agar pasien mendapatkan jaminan kebutuhan gizi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan kemampuan/daya beli keluarga.

  1. 5. Rencana Monitoring

Ä  Asupan gizi

Ä  Antropometri/berat badan

Ä  Pemeriksaan laboratorium

Ä  Pemeriksaan klinis/fisik

  1. B. Implementasi Asuhan Gizi
    1. Diit Pasien

Jenis diit yang diberikan selama studi kasus adalah diet Jantung II + DM Nefropati 1300kkal + RG II agar kebutuhan akan zat-zat gizi dapat terpenuhi, dengan perincian :

F Energi      = 1299,42  kkal

F Protein     =  10,67 gr/hari

F Lemak      =  36,09 gr/hari

F Karbohidrat=  208,98 gr/hari

Makanan diberikan dalam bentuk makanan saring. Frekuensi pemberiannya adalah 3 kali makanan padat dan 2 kali makanan selingan.

  1. Porsi Makan Pasien dan Pembagian Makanan Sehari

Tabel 9.    Pembagian Makanan Sehari

Waktu Menu Bahan Makanan JUMLAH
URT Gram
Pagi (06.30) Bubur saring Beras giling 

Daging sapi

Labu Siam

¼  gls 

1/2 ptg

1/2gls

30 

35

50

Snack  (10.00) Susu 

Roti

Neprishol 

Roti tawar

3 sdk tkr 

1 iris

30 

20

Siang (12.00) Bubur saring Beras giling 

Ayam

Labu Waluh

Pepaya

Gula Tropicana

¼  gls 

1/2 ptg

1/3gls

1 ptg

1 sdm

30 

40

30

100

10

Snack (14.00) Susu 

Puding maizena

Neprishol 

Maizena

Gula Tropicana

3 sdk tkr 

1 sdm

1 sdm

30 

15

10

Malam (19.00) Bubur saring Beras giling 

Telur ayam

Wortel

¼ gls 

½ btr

½ gls

30 

30

50

Snack (21.00) Susu 

Biskuit

Neprishol 

Biskuit

3 sdk tkr 

3 keping

30 

30

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Gagal jantung Kongsetif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Smeltzer & Bare, 2001).

Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).

Efusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura. Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis). Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama pernafasan. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga mencegah kolaps paru. Bila terserang penyakit, pleura mungkin mengalami peradangan atau udara atau cairan dapat masuk ke dalam rongga pleura menyebabkan paru tertekan atau kolaps (Anonim, 2010).

Gagal Ginjal Kronik (CRF) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Harnawatiaj,2010).

B. Etiologi

  1. 1. Diabetes Mellitus

Komplikasi kronis diabetes melitus (DM) terutama disebabkan gangguan integritas pembuluh darah dengan akibat penyakit mikrovaskuler dan makrovaskuler. Komplikasi tersebut kebanyakan berhubungan dengan perubahan-perubahan metabolik, terutama hiperglikemia. Kerusakan vaskuler merupakan gejala yang khas  sebagai akibat DM, dan dikenal dengan nama angiopati diabetika. Makro- angiopati (kerusakan makrovaskuler) biasanya muncul sebagai gejala klinik berupa penyakit jantung iskemik dan pembuluh darah perifer. Adapun mikro- angiopati (kerusakan mikrovaskuler) memberikan manifestasi retinopati, nefropati dan neuropati (Soni,2009).

Nefropati diabetik merupakan manifetasi mikroangiopati pada ginjal yang ditandai dengan adanya proteinuri (mula-mula intermiten kemudian persisten), penurunan GFR ( glomerular filtration rate) peningkatan tekanan darah yang perjalanannya progresif menuju stadium akhir berupa gagal ginjal terminal (Soni,2009).

Berbagai teori tentang patogenesis nefropati diabetik adalah peningkatan produk glikosilasi dengan proses non enzimatik yang disebut AGEs (Advanced Glicosylation End Products), Peningkatan reaksi jalur poliol (polyol pathway), glukotoksisitas (oto-oksidasi), dan protein kinase C memberikan kontribusi pada kerusakan ginjal (Soni,2009).

Kelainan glomerulus disebabkan oleh denaturasi protein karena tingginya kadar glukosa, hiperglikemia dan hipertensi intraglomerulus. Kelainan/perubahan terjadi pada membran basalis glomerulus dengan proliferasi dari sel-sel mesangium. Keadaan ini akan menyebabkan glomerulosklerosis dan berkurangnya aliran darah, sehingga terjadi perubahan-perubahan pada permeabilitas membran basalis glomerulus yang ditandai dengan timbulnya albuminuria (Soni,2009).

  1. 2. Gagal Ginjal

Penyebab gagal ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok (Hartono,2003):

1. Penyakit parenkim ginjal

Penyakit ginjal primer : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal  polikistik, Tbc ginjal

Penyakit ginjal sekunder : Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal, Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, Gout, Dm

2.  Penyakit ginjal obstruktif : pembesaran prostat,Batu saluran kemih, Refluks ureter.

Secara garis besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan menjadi Infeksi yang berulang dan nefron yang memburuk, Obstruksi saluran kemih, Destruksi pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama dan Scar pada jaringan dan trauma langsung pada ginjal (Hartono,2003).

Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 50 ml/mnt. Secara klinis CKD sesuai dengan tahapannya dapat ringan, sedang atau berat. Gagal ginjal tahap akhir (end stage) adalah tingkat gagal ginjal yang dapat mengakibatkan kematian kecuali jika dilakukan terapi pengganti. Insufisiensi ginjal kronik adalah penurunan faal ginjal yang menahun tetapi lebih ringan dari CKD. Adapun klasifikasinya, adalah (Hartono,2003):

@ TKK > 25 ml / mnt ………Insufisiensi ginjal kronik

@ TKK < 25 ml / mnt……….Stadium gagal ginjal kronik

@ TKK < 5 ml / mnt……….Gagal Ginjal terminal, dibutuhkan terapi pengganti seperti haemodialisis. TKK antara 5 – 25 masih dapat diterapi secara konservatif yaitu dengan diet dan obat

2. Congestive Heart Failure

Setiap penyakit yang mempengaruhi jantung dan sirkulasi darah dapat menyebabkan gagal jantung. Beberapa penyakit dapat mengenai otot jantung dan mempengaruhi kemampuannya untuk berkontraksi dan memompa darah. Penyebab paling sering adalah penyakit arteri koroner, yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan bisa menyebabkan suatu serangan jantung (J.Corwin, 2000).

Kerusakan otot jantung bisa disebabkan oleh (J.Corwin, 2000):

  1. Miokarditis (infeksi otot jantung karena bakteri, virus atau     mikroorganisme lainnya
  2. Diabetes
  3. Kelenjar tiroid yang terlalu aktif  dan kegemukan/obesitas

Penyakit katup jantung bisa menyumbat aliran darah diantara ruang-ruang jantung atau diantara jantung dan arteri utama. Selain itu, kebocoran katup jantung bisa menyebabkan darah mengalir balik ke tempat asalnya. Keadaan ini akan meningkatkan beban kerja otot jantung, yang pada akhirnya bisa melemahkan kekuatan kontraksi jantung (J.Corwin,2000).
Penyakit lainnya secara primer menyerang sistem konduksi listrik jantung dan menyebabkan denyut jantung yang lambat, cepat atau tidak teratur, sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif. Jika jantung harus bekerja ekstra keras untuk jangka waktu yang lama, maka otot-ototnya akan membesar; sama halnya dengan yang terjadi pada otot lengan setelah beberapa bulan melakukan latihan beban.
Pada awalnya, pembesaran ini memungkinkan jantung untuk berkontraksi lebih kuat; tetapi akhirnya jantung yang membesar bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan memompa jantung dan terjadilah gagal jantung (J.Corwin, 2000).

Tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa menyebabkan jantung bekerja lebih berat. Jantung juga bekerja lebih berat jika harus mendorong darah melalui jalan keluar yang menyempit (biasanya penyempitan katup aorta) (J.Corwin, 2000).

Penyebab yang lain adalah kekakuan pada perikardium (lapisan tipis dan transparan yang menutupi jantung).  Kekakuan ini menghalangi pengembangan jantung yang maksimal sehingga pengisian jantung juga menjadi tidak maksimal (J.Corwin, 2000).

Penyebab lain yang lebih jarang adalah penyakit pada bagian tubuh yang lain, yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan oksigen dan zat-zat makanan, sehingga jantung yang normalpun tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut dan terjadilah gagal jantung (Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, 1996).

  1. C. Patogenesis

Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat. Penurunan jumlah glomeruli yang normal menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya glomerulo filtrat rate (GFR ) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang menyebabkan anoreksia, nausea maupan vomitus yang menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, 1996).

Peningkatan ureum kreatinin sampai ke otak mempengaruhi fungsi kerja, mengakibatkan gangguan pada saraf, terutama pada neurosensori. Selain itu Blood Ureum Nitrogen (BUN) biasanya  juga meningkat. Pada penyakit ginjal tahap akhir urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan  secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan elektrolit. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal jantung kongestif. Penderita dapat menjadi sesak nafas, akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Dengan tertahannya natrium dan cairan bisa terjadi edema dan ascites. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume cairan dalam tubuh, sehingga perlu dimonitor balance cairannya. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosis  metabolik akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Terjadi penurunan produksi eritropoetin yang mengakibatkan terjadinya anemia. Sehingga pada penderita dapat timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap aktifitas (Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, 1996).

Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasari, ekskresi protein dalam urin, dan adanya hipertensi (Sylvia dan Wilson, 2005).

Perjalanan umum gagal ginjal kronik dapat dibagi menjadi 3 stadium yaitu (Sylvia dan Wilson, 2005):

1. Stadium I

Penurunan cadangan ginjal (faal ginjal antara 40%-75 %). Tahap inilah yang paling ringan, di mana faal ginjal masih baik. Pada tahap ini penderita ini belum merasakan gejala dan pemeriksaan laboratorium faal ginjal masih dalam batas normal. Selama tahap ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) dalam batas normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat, sepersti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test GFR yang teliti.

2. Stadium II

Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20%- 50%). Pada tahap ini penderita dapat melakukan kegiatan seperti biasa, meskipun daya dan konsentrasi ginjal menurun. Pada stadium ini pengobatan harus cepat dalam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan jantung, dan pencegahan pemberian obat-obatan yang bersifat menggnggu faal ginjal. Bila langkah langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat mencegah penderita masuk ke tahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat di atas batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda-beda, tergantung dari kadar protein dalam diet.

Poliuria akibat gagal ginjal biasanya lebih besar pada penyakit yang terutama menyerang tubulus. Biasanya ditemukan anemia pada gagal ginjal dengan faal ginjal di antara 5%-25%. Faal ginjal jelas sangat menurun dan timbul gejala kekurangan darah, tekanan darah akan naik, aktifitas penderita mulai terganggu.

3. Stadium III

Uremi gagal ginjal (faal ginjal kurang dari 10%). Semua gejala sudah jelas dan penderita masuk dalam keadaan di mana tak dapat melakukan kegiatan sebagaimana mestinya. Gejala yang timbul antara lain mual, muntah, nafsu makan berkurang, sesak nafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang, dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Stadum akhir timbul pada sekitar 90% dari massa nefron telah hancur. Nilai GFR 10% dari keadaan normal dan kadar kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml/ menit atau kurang.

Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan sangat mencolok sebagai penurunan. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis caiaran dan elektrolit dalam tubuh. Penderita biasanya menjadi oliguri (pengeluaran kemih) kurang dari 500 ml/ hari karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus ginjal.

  1. D. Terapi Diet
    1. 1. Penatalaksanaan Diet Pada Penderita DM Nefropati, CHF, dan Hipertensi

Diet Penyakit Diabetes mellitus dengan Nefropati

Diabetes Mellitus jika tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh, diantaranya ginjal. Manifestasi lanjut dari kelainan ginjal pada Diabetes Melllitus adalah Nefropati Diabetes (Almatsier,2007).

Tujuan Diet (Almatsier,2007):

Untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal serta menghambat laju kerusakan ginjal, dengan cara (Almatsier,2007):

1)     Mengendalikan kadar glukosa darah dan tekanan darah

2)     Mencegah menurunnya fungsi ginjal.

3)     Mempertahankan keseimbangan kadar cairan dan elektrolit

Syarat Diet

1)   Energi adekuat, yaitu 25-30 kkal/kg BBI

2)   Protein rendah yaitu 10% dari kebutuhan energi total atau 0,8 g/kg BB.

3)   Lemak normal, 20-25% dari kebutuhan energi total

4)    Karbohidrat sedang yaitu 55-60% dari kebutuhan energi total. Kebutuhan karbohidrat tergantung pada kadar glukosa dan lipida darah.

5)    Natrium dan kalium dibatasi

6)   Vitamin tinggi. Bila nafsu makan menurun diberikan suplemen Vitamin B kompleks, asam folat dan piridoksin, serta vitamin C.

Diet Jantung II

Diet jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Diet diberikan sebagai perpindahan dari Diet Jantung I atau setelah fase Akut dapat di atasi. Jika disertai hoipertensi dan/atau edema, diberikan diet jantung II Garam Rendah.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Monitoring
    1. 1. Monitoring Diet Pasien

Dari hasil monitoring diet pasien menunjukkan bahwa selama di rawat inap di Rumah Sakit pasien mendapatkan diet RG RP dalam bentuk makanan biasa. Pemberian energi dan zat gizi  berdasarkan kebutuhan  pasien, adapun hasil recall sebelum intervensi adalah :

Tabel 10.  Asupan zat Gizi sebelum intervensi

Energi Protein Lemak KH
Asupan 217,35 kkal 7,08 gr 5,43 gr 36,5 gr
Kebutuhan 1299,4 kkal 34,65 gr 36,1gr 209 gr
% Kebutuhan 16,73 20,45 15 17,5

Sumber : Data Primer 2010

Dari hasil recall  sebelum intervensi, didapatkan bahwa asupan makanan dan minuman oral pasien kurang dari kebutuhan fisiologis dengan domain Intake NI. 2.1. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan bahwa nafsu makan pasien sangat rendah hal ini desebabkan oleh pasien sering merasa mual dan terkadang muntah.

Tabel.11 Konsumsi Zat Gizi Pasien Selama Intervensi

Tanggal Konsumsi Energi dan Zat Gizi
Energi 

( kkal )

Protein 

( gr )

Lemak 

( gr )

KH 

( gr )

30/11/10 

(Hari I)

Asupan 378,25 11,58 4,62 70,8
Kebutuhan 1299,4 34,65 36,1 209
% Kebutuhan 29,11 33,42 12,8 33,9
01/12/10 

(Hari II)

Asupan 488,6 12,24 9,8 86,7
Kebutuhan 1299,4 34,65 36,1 209
% Kebutuhan 37,60 35,32 27,2 41,5
02/12/10 (Hari III) Asupan 668,83 21,45 16,3 109
Kebutuhan 1299,4 34,65 36,1 209
% Kebutuhan 51,47 61,92 45,1 52,3

Sumber : Data Primer 2010

Grafik 1. Distribusi Monitoring Asupan Makanan Pasien

Dari tabel dan grafik diatas, dapat dilihat bahwa asupan makanan pasien dari hari ke hari meningkat walaupun sampai hari terakhir intervensi asupan makanan belum mencukupi kebutuhan pasien. Asupan makanan yang kurang diakkibatkan kurangnya nafsu makan yang disebabkan mual dan perut terasa penuh. Peningkatan asupan yang cukup tinggi terjadi pada hari terakhir intervensi, kemungkinan hal ini terkait dengan perubahan konsistensi makanan yang di berikan dari makanan lunak menjadi makanan saring.

  1. 2. Monitoring Pemeriksaan Fisik/Klinik

Tabel  12.    Data Klinis Pasien Selama Di Intervensi

Pemeriksaan S atuan Tanggal       Pemeriksaan
29/11/10  

30/11/10

 

 

1/12/10

 

 

2/12/10

 

Tekanan darah 

Nadi

Pernafasan

Suhu

mmHg 

x/i

x/i

°C

 

130/90 80

24

36,7°C

 

130/90 

90

26

36,8o C

 

130/90

80

24

36,7

 

130/100

80

20

35,7o

Sumber : Rekam Medik Pasien 2010

Dari hasil pemeriksaan fisik dan klinis didapati bahwa tekanan darah pasien cukup tinggi, hal ini terkait dengan penyakit Hipertensi yang diderita pasien.

  1. 3. Monitoring Pemeriksaan Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal
Sblm Intervensi Intervensi
29/11/10 30-02/10/10
Ureum 

Kreatinin

SGOT

SGPT

GDS

Protein Total

Albumin

Protein

Blood

Lekosit

HGB

 

56 mg/dl 

2,0 mg/dl

14 u/dl

12  u/dl

125 mg/dl

4,8 g/dl

2,2 gr/dL

500/+4

250/+5

500/+3

6,9 g/dL

– 

10-50g/dL 

<1,3

< 32 u/dL

<32 u/dL

140mg

6,0-8,4

3,5-5 gr/dL

Negatif

Negatif

Negatif

12-14 g/dl

Berdasarkan diagnosis gizi mengenai domain klinik sebelum intervensi adalah NC-2.2 perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus disebabkan gangguan fungsi ginjal ditandai dengan Ureum dan kreatinin tinggi, protein total, albumin dan HGB rendah serta terdapat protein, blood, dan lekosit dalam urine. Belum ada perubahan hasil laboratorium karena pasien belum melakukan pemeriksaan lagi.

  1. B. Hasil Motivasi Diet Pasien
    1. 1. Perkembangan Pengetahuan Gizi

Pada dasarnya pasien sudah mengerti tentang diet yang diberikan karena ditinjau dari segi perkembangan asupan makanan yang dari hari kehari sudah sedikit berubah.

Setelah diberikan konsultasi gizi tentang diet pasien dan dievaluasi kembali melalui berbagai pertanyaan tentang makanan yang dibatasi dikonsumsi & makanan yang tidak bisa dikonsumsi  pasien sudah bisa menjawab.

2. Sikap dan Perilaku Pasien Terhadap Diet

Dengan bertambahnya pengetahuan pasien maka terjadi perubahan sikap dan perilaku pasien dengan patuhnya pasien terhadap diet yang diberikan dari rumah sakit walaupun awalnya pasien sangat suka dengan menu yang disediakan dari luar rumah sakit khususnya ikan dan ayam, namun setelah diberi konsultasi tentang Rendah Garam, diet jantung dan DM Nefropati pasien sedikit demi sedikit sudah mulai mengubahnya.

  1. C. Evaluasi Asuhan Gizi Pasien
    1. 1. Konsumsi Energi dan Zat Gizi Pasien

Konsumsi Energi dan Zat Gizi Pasien

Tabel 13.        Konsumsi Zat Gizi Pasien Selama Intervensi

Tanggal Konsumsi Energi dan Zat Gizi
Energi 

( kkal )

Protein 

( gr )

Lemak 

( gr )

KH 

( gr )

30/11/10 

(Hari I)

Asupan 378,25 11,58 4,62 70,8
Kebutuhan 1299,4 34,65 36,1 209
% Kebutuhan 29,11 33,42 12,8 33,9
01/12/10 

(Hari II)

Asupan 488,6 12,24 9,8 86,7
Kebutuhan 1299,4 34,65 36,1 209
% Kebutuhan 37,60 35,32 27,2 41,5
02/12/10 (Hari III) Asupan 668,83 21,45 16,3 109
Kebutuhan 1299,4 34,65 36,1 209
% Kebutuhan 51,47 61,92 45,1 52,3

Sumber : Data Primer 2010

Dari tabel di atas menunjukkan asupan pasien setelah intervensi mengalami perubahan cukup baik dari hari ke hari.  Pemberian motivasi dan edukasi berupa konseling kepada pasien tentang pentingnya pengaturan makanan untuk mempercepat penyembuhan penyakitnya juga memberikan dampak yang cukup bagus, walau masih jauh dari yang diharapkan untuk mencapai asupan sesuai kebutuhan.

  1. 2. Evaluasi Status Gizi

Umur        = 56 tahun

BBI            = 49,5 kg

TB             = 155 cm

BB             = 57Kg

BBK          = 57-(30% x 57)= 39,9 kg

IMT          = 16,63 (Gizi Buruk)

Berdasarkan data di atas, didapati Diagnosis Gizi NC-3.1 yaitu berat badan kurang dari normal disebabkan karena asupan makanan kurang dan keadaan fisik pasien. Meskipun asupan makanan pasien sudah mulai membaik namun belum ada perubahan BB hal ini dikarenakan perubahan BB membutuhkan yang yang cukup lama.

  1. 3. Perkembangan Terapi Diet

Berdasarkan kebutuhan dan kondisi serta penyakit yang di derita pasien, pasien diberikan Diet DM Nefropati 1300+ Jantung II + RG II dengan konsistensi Makanan Saring 3 kali makan dan 3 kali selingan. Dengan kebutuhan energi 1299,42 kkal, protein 34,65 gr, lemak 36,09 gr, dan karbohidrat 208,98 gr.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan
    1. Diagnosis Medis adalah CHF NYHA II, Hipertensi, CKD Stg IV, efusi pleura bilateral dan DM tipe II Non-obese
    2. Terapi diet yang diberikan berupa terapi diet DM Nefropati 1300 kkal+ Diet Jantung II+ Diet RG II
    3. Asupan makanan pasien selama intervensi mengalami peningkatan.
    4. Diagnosis gizi yang diberikan adalah NI.2.1 Asupan makanan dan minuman oral yang lebih kecil dari kebutuhan, NC.2.2 Perubahan nilai Laboratorium terkait zat gizi dan NC.3.1 Berat Badan Kurang/Gizi buruk.
    5. B. Saran
  1. Dibutuhkan pendekatan yang lebih intensif untuk merubah pola makan pasien dan menambah nafsu makan pasien.
  2. Perlu adanya dukungan dan motivasi yang kuat dari pihak keluarga agar pasien disiplin menjalani diet yang diberikan


DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Bare. 2001. Buku Ajar keperawatan Medical Bedah, Bruner & Suddart , Edisi 8, EGC, Jakarta.

Anonim, 2010, Asuhan Keperawatan Efusi pleura, http://akper-askep.blogspot.com/2010/01/asuhan-keperawatan-efusi-pleura.html. Diakses pada tanggal 30 November 2010.

Harnatiaj, 2010, Gagal Ginjal Kronik, http://harnawatiaj.wordpress. com/2008/04/16/gagal-ginjal-kronik/. Diakses pada tanggal 30 November 2010.

Hartono, Andry. 2003.Prinsip Diet Penyakit Ginjal. Arcan. Jakarta.

Arsono, Soni. 2009, Diabetes Melitus Sebagai Faktor Risiko Kejadian Gagal Ginjal Terminal. http://www.mep.undip.ac.id/tesis/59-diabetes-melitus-sebagai-faktor-risiko-kejadian-gagal-ginjal-terminal. Diakses pada tanggal 30 November 2010.

Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan ASDI. 2006. Penuntun Diet Edisi Baru. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

J. Corwin, Elizabeth. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta.

Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. 1996. Buku Ajar Penyakit Dalam.  Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Price, Sylvia A., Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi; Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC. Jakarta.

Almatsier, Sunita. 2007. Penuntun Diet. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Posted in Laporan/Tugas Kuliah | Leave a comment

Diabetes Mellitus

BAB I

DESAIN KONSELING

  1. A. Identifikasi Masalah

Pasien bernama Ny. S konsultasi ke poli interna dengan keluhan badan terasa lemas.

Ny.s berasal dari Sinjai, pekerjaan pasien seorang guru di salah satu sekolah menengah atas, suami telah meninggal dan mempunyai 2 orang anak. Saat ini tinggal dengan cucunya di Sonjai.

Hasil pemeriksaan laboratorium Ny.S adalah :

Tabel 1. Hasil pemeriksaan laboratorium (Tanggal 04 Desember 2010)

JenisPemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

Satuan

Interpretasi

GDP

259

84-126

mg/dl

Tinggi

GD2PP

355

84-126

mg/dl

Tinggi

Tabel.2 Hasil pemeriksaan fisik dan klinis

JenisPemeriksaan

Hasil

Satuan

Interpretasi

Tekanan Darah

180/90

mg/dl

Tinggi

 

Pasien sejak 1 tahun yang lalu menjalani terapi insulin. Berdasarkan hasil recall 24 jam sebelum intervensi, asupan zat gizi Ny.S sebagai berikut :

Energi               : 1752,17 kkal (92,87%)

Protein              : 59,72 gr (70,75%)

Lemak               : 51,7 gr (98,7%)

Karbohidrat       : 256 gr (90,6%)

Natrium             : 498,9

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka Ny. s oleh dokter di diagnosa Diabetes Melitus tipe II Non-obese dan Hipertensi.

 

  1. B. Review Rencana Asuhan Gizi
    1. Diagnosa Klinik

Diabetes Melitus tipe II Non-obese dan Hipertensi.

  1. Diagnosa Gizi

Tabel 2. Diagnosa Gizi Berdasarkan Domain Intake

Problem Etiologi Sign
v  Tekanan Darah↑ Pasien menderita Hipertensi Tekanan darah : 180/90 mmHg
NI.5.4 Menurunnya kebutuhan Natrium dibandingkan kebutuhan standar fisiologis yang disebabkan  oleh pasien mengidap hipertensi yang ditandai dengan tekanan darah 180/90 mmHg

 

Tabel 3. Diagnosa Gizi Berdasarkan Domain Klinik

Problem Etiologi Sign
v  Perubahan nilai laboratorium v  Gangguan fungsi endoktrin (insulin) v  Ketidaknormalan kadar glukosa darah:

GDP: 259 mg/dl↑

GD2PP : 355 mg/dl↑

v NC-2.2

v Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus disebabkan oleh gangguan fungsi endoktrin  (insulin) yang ditandai oleh ketidaknormalan kadar glukosa darah

GDP : 259 mg/dl ↑

GD2PP : 355 mg/dl ↑

  1. Jenis Diet

Berdasarkan hasil identifikasi masalah maka pasien diberi diet DM 1900kkal + RG II (600 – 800 mg Na)

 

Perhitungan kebutuhan zat gizi :

Energi      =  655 + (9,6×54) + (1,8 x TB) – (4,7xU)

=  655 + (9,6×54) + (1,8 x 155) – (4,7 x 60)

=  1170,4 kkal

FS  = 1,3

FA  =        Tidur :  8/24 x 1         = 0,3

Duduk: 8/24 x 1,08  = 0,36

Berdiri:4/24 x 2,37    = 0,39

Jalan : 4/24 x 1,17    = 0,19 +

1,24

TEE         = 1170,4 x 1,3 x 1,24

= 1886,68

Protein    =  = 70,75 gr

Lemak  =    = 52,41  gr

Karbohidrat=   = 283,0 gr

  1. C. Tujuan Diet
    1. 1. Tujuan Umum

Konseling ini bertujuan agar pasien dan keluarganya memahami tetang diet yang akan diberikan serta dapat menjalani diet tersebut.

 

  1. 2. Tujuan Khusus
    1. Pasien dan keluarga dapat memahami tujuan dan syarat diet yang diberikan
    2. Pasien dan keluarga dapat mengetahui bahan makanan yang boleh dan yang dibatasi bagi penderita DM tipe II non obese + Hipertensi
    3. D. Materi
      1. Gambaran Umum Penyakit
      2. Tujuan diet
      3. Syarat diet
      4. Bahan makanan yang boleh dan yang dibatasi
      5. Bagaimana cara mengatur diet yang diberikan
      6. E. Sasaran

Pasien dan keluarga

  1. F. Metode

Ceramah dan tanya jawab

  1. G. Tempat

Poli Gizi dan Poli Interna

  1. H. Waktu

20 menit

  1. I. Alat Peraga
    1. Food model
    2. Leaflet
    3. Bahan makanan penukar
    4. J. Pelaksana

Peserta Magang Pre-Dietary Internship Rotasi Klinik

  1. K. Evaluasi

Menanyakan kembali meteri yang telah disajikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

MATERI KONSELING

  1. A. Gambaran Umum Penyakit Diabetes Melitus

  • Pengertian

Penyakit diabetes melitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang, disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula atau glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Apabila penyakit ini dibiarkan tidak terkendali, akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal. Hal ini tidak akan terjadi apabila DM diketahui lebih awal dan penderita patuh terhadap pengobatan yang ditetapkan. Terdapat empat pilar penatalaksanaan penderita DM agar dapat menikmati hidupnya dengan nikmat yaitu: penyuluhan, perencanaan makan, latihan jasmani dan Obat berkhasiat hipoglikemik (Suyono, 2002).

  • Etiologi

Diabetes Mellitus dibedakan menjadi dua yaitu Tipe I atau IDDM ( Insulin-Dependen DM) dan Tipe II atau NIDDM (Non Insulin-Dependent DM). DM tipe I atau IDDM terjadi akibat kekurangan insulin karena kerusakan sel beta pankreas. Sedangkan DM tipe II disebabkan oleh berbagai hal seperti bertambahnya usia harapan hidup, berkurangnya kematian akibat infeksi dan meningkatnya faktor resiko akibat cara hidup yang salah seperti kegemukan, kurang gerak, dan pola makan yang tidak sehat (Suyono, 2002).

  • Patofisiologi

Insulin memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, yaitu bertugas memasukan glukosa ke dalam sel dan digunakan sebagai bahan bakar. Insulin diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, yang kemudian di dalam sel tersebut glukosa akan dimetabolisme menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak dapat masuk ke sel, yang mengakibatkan glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat (Suyono, 2002).

Pada DM tipe II, jumlah insulin normal atau mungkin jumlahnya banyak, tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat dalam permukaan sel berkurang. Akibatnya glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa di dalam pembuluh darah meningkat (Suyono, 2002).

  • Gejala dan Tanda

1) Gejala akut

Pada tahap permulaan, gejala yang ditunjukkan meliputi: banyak makan atau polifagia, banyak minum atau polidipsia, dan banyak kencing atau poliuria. Pada fase ini, biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus naik, karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi (Tjokroprawiro, 2001).

2) Gejala Kronik

Gejala kronik yang sering timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal dikulit, kram, lelah, mudah mengantuk, mata kabur, gatal disekitar kemaluan terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun, pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg (Tjokroprawiro, 2001).

PRINSIP DIIT DIABETES MELLITUS

Prinsip diit DM adalah mengurangi dan mengatur konsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan kadar gula darah dengan anjuran mengkonsumsi karbohidrat komplek dan makanan yang mengandung serat (Tjokroprawiro, 2001).

Prinsip pemberian makanan bagi DM yang mempunyai interal waktu 3 jam sekali dengan tujuan agar mampu mengontrol kadar gula darah. Jadwal makan terakhir adalah snack malam sebelum tidur, sehingga jarak waktu malam makanan sebelum tidur sampai bangun pagi tidak terlalu panjang untuk mencegah hipogiklemia pada pagi harinya (Tjokroprawiro, 2001).

Tujuan Diit

  1. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal.
  2. Mencapai kadar lipida serum optimal.
  3. Memberi cukup energi untuk mencapai atau mempertahankan berat badan normal.
  4. Menghindari dan menangani komplikasi kronik orang yang DM.
  5. Meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal (Almatsier, 2007).

c). Syarat Diit

a)    Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal. Makanan dibagi dalam 3 porsi besar, yaitu makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan (masing-masing 10-15%).

b)    Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.

c)    Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total, dalam bentuk <10% dari kebutuhan energi total berasal dari lemak jenuh, 10% dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan sisanya dari lemak tidak jenuh tunggal. Asupan makanan kolesterol dibatasi, yaitu ≤ 300 mg per hari.

d)     Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total,yaitu 60-70%. Kebutuhan karbohidrat sederhana 5% dari total kalori.

e)    Penggunaan gula murni dalam makanan dan minuman tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu.

f)     Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas.

g)    Asupan serat dianjurkan 25 g per hari

h)    Cukup vitamin dan mineral (Almatsier, 2007).

  1. B. Gambaran Umum Penyakit Hipertensi Definisi Hipertensi
  • Pengertian

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah tepi dan peningkatan volume aliran darah. Faktor gizi yang sangat berhubungan dengan terjadinya hipertensi melalui beberapa mekanisme. Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang, walaupun faktor usia juga berperan, karena pada usia lanjut (usila) pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang (Kurniawan, 2002).

  • Etiologi

Vonis sebagai pengidap tekanan darah tinggi datang begitu saja. Karena tak mengirimkan alarm bahaya, orang kerap mengabaikannya. Hipertensi kini ditengarai sebagai penyebab utama stroke dan jantung. Menurut Hanns Peter Wolff, dalam bukunya Speaking of High Blood Pressure, satu dari setiap lima orang menderita tekanan darah tinggi, dan sepertiganya tidak menyadarinya. Padahal, sekitar 40 % kematian di bawah usia 65 tahun bermula dari tekanan darah tinggi (Anonim, 2007).

Hipertensi, menurut penyebabnya, dibagi menjadi 2 golongan yaitu:

  1. Hipertensi esensial atau primer adalah hipertensi yang tidak/belum diketahui penyebabnya, sekitar 90% penderita hipertensi adalah hipertensi primer.
  2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain.
  • Gejala Penyakit Hipertensi

Gejala gejala penyakit hipertensi yaitu sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala sebagai berikut:

  1. Sakit kepala
  2. Kelelahan
  3. Mual
  4. Muntah
  5. Sesak nafas
  6. Gelisah
    1. Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal  (7).
  • Faktor Pemicu Terjadinya Hipertensi (Anonim, 2008).
  1. 1. Faktor Keturunan

Pada 70-80% kasus hipertensi esensial, didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran memicu hipertensi.

  1. 2. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan seperti stres, kegemukan (obesitas) dan kurang olahraga juga berpengaruh memicu hipertensi esensial. Hubungan antara stres dengan hipertensi, diduga terjadi melalui aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas). Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi.

  1. 3. Kegemukan

Merupakan ciri khas dari populasi hipertensi.  Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.

  • Gizi Dan Hipertensi

Dalam gaya hidup sehat yang utama adalah makanan yang kita konsumsi. Terdapat beberapa kriterian makanan, yaitu makanan yang harus dihindari dan makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi. Bagi penderita hipertensi dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa makanan berikut:

  1. Buah-buahan

Jenis makanan ini sangat baik untuk melawan penyakit hipertensi. Dengan mengonsumsi buah dan sayur segar secara teratur dapat menurunkan risiko kematian akibat hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner, menurunkan tekanan darah, dan mencegah kanker. Buah dan sayur mengandung zat kimia tanaman (phytochemical) yang penting, seperti flavonoids, sterol, dan phenol.Flavonoids, yang terdapat dalam anggur merah dan apel dapat mengurangi bahaya kolesterol dan mencegah penggumpalan darah. Buah jenis berry bersifat antioksidan; buah yang berwarna gelap juga banyak mengandung serat.

Selain itu buah yang sering dikonsumsi untuk mengatasi hipetrsi adalah buah pisang. Secara umum kandungan gizi yang terkandung dalam setiap buah pisang matang adalah sebagai berikut: kalori 99 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 25,8 mg, serat 1,7 gram, kalsium 8 gram, fosfor 28 mg, besi 0,5 mg serta vitamin A 44 RE, Vitamin B 0,08 mg, vitamin C 3 mg dan air 72 gram. Kandungan buah pisang di atas dianggap cukup baik untuk mengatasi hipertensi.bahkan lembaga food and Drug Administrition Amerika memperbolehkan pengusaha pisang untuk membuat kalim bahwa pisang dapat menurangi resiko tekanan darah dan stroke.

  1. Sayur

Sebagaimana buah-buahan, sayur juga banyak mengandung vitamin dan phytochemical serta serat. Sayur yang dapat digunakan untuk pencegahan hipertensi ini seperti seledri, bawang dan sayur hijau lainnya. Bawang putih misalnya mampu menurunkan tekanan darah tinggi serta menurunkan kolesterol, berkat adanya senyawa yang disebut ajone, yaitu senyawa yang selain penurun hipertensi juga sebagai pemcegah pengumpalan darah.

  1. Serat

Makanan yang banyak mengandung serat sangat penting untuk keseimbangan kolesterol. Serat terdapat dalam tumbuhan, terutama pada sayur, buah, padi-padian, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain dapat menurunkan kadar kolesterol karena dapat mengangkut asam empedu, serat juga dapat mengatur kadar gula darah dan menurunkan tekanan darah.

  1. Karbohidrat jenis kompleks

Karbohidrat jenis kompleks seperti nasi, pasta, kentang, roti lebih aman bagi penderita hipertensi daripada karbohidrat sederhana seperti gula, manisan atau soda. Hal ini dikarenakan gula sederhana lebih mudah meningkatkan kadar gula darah dan ini berimplikasi kepada terjadinya hipertensi.

  1. Vitamin dan mineral

Vitamin dan mineral juga sangat penting untuk menyeimbangkan proses-proses fisiologi di dalam tubuh kita, termasuk juga untuk menyeimbangkan tekanan darah.

  1. Teh

Teh telah cukup terkenal sebagai antioksidan yang efektif, selain itu teh juga dapat mengurangi resiko hipertensi ataupun stroke. Pengkonsumsian teh secara teratur dan seimbang dapat menjaga pola hidup sehat.

Untuk pengaturan pola makanan sehari-hari bagi penderita hipertensi yaitu dengan selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan sampai lebih dari 1 sendok per hari. Meningkatkan pasokan kalium 94,5 gram atau 120-175 mEq/hari) dapat memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian kalium juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium. Kecukupan kalsium juga harus dipantau untuk mencegah atau mengobati hipertensi: 2-3 gelas susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram keju rendah natrium dapat memenuhi kebutuhan kalsium.

Untuk diet bagi penderita hipertensi dapat dilakukan dengan memperbaiki rasa tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang, jahe, kencur serta bumbu-bumbu lain yang tidak asin atau mengandung banyak garam natrium. Untuk memeperbaiki ras, makanan juga dapat ditumis. Untuk mengurangi penggunaan garam yang berlebih, dapat diatasi dengan membubuhkan garan di meja makan (Ali, 2008).

  • Penatalaksanaan Diet

Pasien dengan hipertensi diberikan diet rendah garam untuk menurunkan tekanan darahnya. Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

Syarat Diet:

Syarat-syarat diet garam rendah adalah:

1)    Cukup energi, protein, mineral dan vitamin

2)    Bentuk makana sesuai dengan keadaan penyakit

3)    Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan/atau hipertensi.

 

Macam Diet Dan Indikasi Pemberian

Sesuai dengan keadaan penyakit, dapat diberikan berbagai tingkat diet garam rendah yaitu:

Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)

Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan/atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur. Dihindaribahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

 

Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)

Diet garam rendah II diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan/atau hipertensi tidak terlalu berat. Pada pengolahan makanannya boleh mrnggunakan ½ sdt garam dapur (2 g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

 

Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)

Diet garam rendah III diberikan kepada pasien dengan edema dan/atau hipertensi ringan. Pada pengolahan makanannnya boleh menggunakan 1 sdt (4 g) garam dapur.

  1. B. Tujuan Diet

Memberikan makanan yang adekuat untuk :

  1. Membantu menghilangkan retensi garam dalam jaringan tubuh.
  2. Membantu meningkatkan albumin dan Hb mencapai normal.
  3. C. Syarat Diet
    1. Energi cukup untuk mencapai beratbadan normal
    2. Protein cukup yaitu 16,6% dari total energi
    3. Lemak sedang 20% dari total energi
    4. Karbohidrat cukup, sisadari perhitungan protein dan lemak yaitu 63,4% dari kebutuhan energi total
    5. Menghindari makanan yang tinggi natrium (garam dapur 1 sdt = 4 gr atau 1000 – 1200 mg Na)
    6. Serat cukup terutama serat larut air yang terdapat dalam sayur dan buah
    7. Vitamin dan mineral diberikan cukup terutama vitamin A, B coplek, zink, Fe dan E sebagai zat anti oksidan untuk meningkatkan daya tahan tubuh
    8. Bentuk makanan lunak
    9. Cara pemberian oral

10. Makanan diberikan dalam bentuk mudah cerna dan tidak menimbulkan gas

11. Frekuensi maknan 3 kali utama dan 2 kali makanan selingan.

  1. D. Bahan Makanan yang Boleh dan yang Tidak Boleh
    1. Bahan makanan yang boleh dibarikan

Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam natrium, yang bersal drai tumbuh-tumbuhan seperti :

  • Beras, kentang, ubi, mie tawar, maizena, nunkwe, terigu, gulapasir.
  • Kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar.
  • Minyak goreng, margarine tanpa garam
  • Sayuran dan buah-buahan
  • Bumbu seperti : bawang, brambang jahe, kemiri, kunyit, kencur, laos, salam, sereh dan cuka.

 

  1. Makanan yang dibatasi :
  • Daging, ayam, ikan peling banyak 100 gr sehari
  • Telur ayam, telut bebek paling banyak 1 butir sehari
  • Susu segar paling banyak 2 gelas sehari
  • Minuman seperti : kopi, teh, sirop, sari buah

 

  1. Makanan yang dilarang

Semua makanan yang diberi garam Natrium pada pengolahan, seperti :

  • Roti, biscuit, kraker, cake, dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur/soda
  • Dendeng, abon, corned beef, daging asap, ham, ikan asin, sardent, ikan pndang, udang kering, telur asin, telur pindang
  • Keju, pinda kas
  • Margarine, mentega
  • Acar, asinan sayuran, sayur dalam kaleng
  • Asinan buah, manisan buah, buah dalam kaleng
  • Garam dapur, vetsin, soda kue, kecap, manggi, terasi, petis, tauco, tomato cateup.

  1. E. Cara Mengatur Diet yang Diberikan
    1. Pada permulaan, anda dianjurkan menimbang makanan sesuai dengan nasehat yang diberikan, lebih-lebih bila penyakit belum terkontrol. Secara berangsur anda dapat menakar makanan dengan ukuran rumah tangga atau dengan pengamatan. Beberapa makanan perlu ditimbang seperti daging dan ikan. Jika tekanan darah masih diatas normal (tinggi),maka anda tidak dianjurkan menggukanan garam natrium pada semua jenis pengolahan makanan.
    2. Bila tekanan darah sudah normal, anda dapat menggunakan garam dapur 1 sdt (4 gr) atau1000-1200 gr Na pada pengolahan makanan anda.
    3. Rasa tawar dapat diperbaiki dengan menggunakan bumbu-bumbu yang tidak mengandung natrium, seperti : bawang brambang, jahe,kunyit, salam, gula, cuka, dan sebagainya
    4. Cara memasak seperti menggoreng, menumis, atau memanggang juga dapat meninggikan rasa makanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL  EVALUASI DAN MONITORING

  1. A. Evaluasi Pelaksanaan Edukasi

Pelaksanaan konsultasi/edukasi gizi dilakukan pada hari Senin, tanggal 6 Desember 2010 pada jam 11.00. Pasien datang bersama dengan anaknya. Setelah melihat dan membaca hasil laboratorium dari RS Umum Sinjai, pasien dibari kesempatan untuk menceritakan masalah yang dihadapi yang berhubungan dengan penyakitnya. Kemudian dilakukan konsultasi dengan menjelaskan gambaran umum penyakit, maksud dan tujuan dari diet yang akan diberikan dan penatalaksanaan diet tersebut.

Berdasarkan perhitungan kebutuhan gizi, diperoleh kebutuhan zat gizi pasien Energi = 1886,68 kkal, Protein = 70,75 gr, Lemak = 52,4 gr, Karbohidrat = 283 gr dan Natrium = 700 mg. Jenis diet yang diberikan adalah diet RG II + DM 1900kkal, bentuk makanan biasa. Selanjutnya dibuatkan contoh menu dan pembagian makanan sehari dan dijelaskan gambaran penyakit yang diderita pasien, tujuan diet dan syarat diet, serta makanan yang dianjurkan, yang dibatasi dan tidak dianjurkan.

Selama proses konseling, pasien dan keluarga begitu antusias dalam melakukan konsultasi sambil sesekali bertanya tentang makanan yang bisa dia makan dan cara mencegah Diabetes melitus. Pada akhir konseling, konselor memberikan motivasi kepada pasien untuk memperbaiki pola atau kebiasaan makan yang tidak benar dan mau menjalankan diet yang diberikan untuk mempersiapkan kemoterapi yang akan dilakukan pasien. Konseling berlangsung selama kurang lebih 30 menit.

  1. B. Pemahaman Materi Konseling

Pasien sudah cukup memahami maksud dan tujuan diet yang diberikan, dimana pasien sudah tahu dan mampu menyebutkan makanan yang dianjurkan, yang dibatasi dan yang tidak dianjurkan serta pasien dapat menjalankannya.

  1. C. Kepatuhan Diet Pasien

Berdasarkan diagnosa gizi mengenai domain intake pada tanggal 06 Desember 2010, yaitu :

NI. 5.4 Menurunnya kebutuhan Natrium dibandingkan kebutuhan standar fisiologis yang disebabkan  oleh pasien mengidap hipertensi yang ditandai dengan tekanan darah 180/90 mmHg

Untuk domain klinik didapatkan NC-2.2 Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus disebabkan oleh gangguan fungsi endoktrin  (insulin) yang ditandai oleh ketidaknormalan kadar glukosa darah GDP : 259 mg/dl ↑ dan GD2PP : 355 mg/dl ↑

Selama tiga hari melakukan intervensi terhadap Pasien, terdapat beberapa perubahan yang baik seperti tidak mengonsumsi gula dan cemilan yang manis-manis. Dalam hasil recall didapatkan adanya penurunan asupan makanan, hal ini terkait dengan kesibukan pasien dan tidak ada yang menyiapkan makanan di rumah.

  1. D. Perubahan Pola dan Kebiasaan Makan

Untuk mengubah pola dan kebiasaan makan seseorang tidaklah mudah apalagi jika pasien itu dalam keadaan sakit, mengingat ada beberapa hal yang mempengaruhinya misalnya pengetahuan gizi, ketersediaan bahan pangan, kemampuan daya beli, pola makan keluarga dan penyakit yang dialami pasien itu sendiri. Perubahan bisa dicapai bila pasien memiliki motivasi yang cukup untuk merubah pola makan sesuai yang telah dianjurkan oleh edukator.

Selama intervensi berlangsung (3 hari) dan hari terakhir dilakukan observasi kembali ternyata diagnosa gizi mengenai doamain klinik (NC- 2.2) masih tetap karena selama intervensi belum ada pemeriksaan laboratorium lagi.

Perubahan pola dan kebiasaan makan pasien ini karena adanya motivasi yang kuat dari pasien untuk cepat menormalkan kembali tekanan darah. Adanya motivasi dalam diri pasien dan dukungan keluarga konselor yakin pola dan kebiasaan makan pasien bisa berubah sesuai yang diharapkan dan dapat mempertahankan status gizi optimal.

  1. E. Monitoring Konsumsi Energi dan Zat Gizi Pasien
  • Asupan energi dan zat gizi pasien sebelum intervensi

Tabel 5. Asupan zat gizi sebelum intervensi

  Energi

(Kkal)

Protein

(gr)

Lemak

(gr)

KH

(gr)

Asupan 1752,17 59,72 51,7 283
Kebutuhan 1886,68 70,75 52,4 283
% Kebutuhan 92,87 84,41 98,7 90,6

Sumber : Data Primer 2010-12-06

Berdasarkan tabel diatas asupan energi dan zat gizi pasien sebelum intervensi mencukupi kebutuhan pasien. Walaupun asupan sebelumintervensi ini tidak dapat dijadikan gambaran karena pola makan pasien ketika berada di makassar berbeda dengan di sinjai. Hal ini terkait dengan ketersediaan makanan di rumah, kalau di makassar pasien tinggal bersama anak sehingga ada orang yang dapat menyediakan makanan berbeda dengan di sinjai pasien harus menyediakan makanan sendiri.

  • Diet Setelah Intervensi

Diet yang diberikan setelah intervensi adalah diet RG II dan DM 1900kkal. Berdasarkan hasil anamnesis makanan pasien selama intervensi diketahui asupan makanan pasien dari hari kehari mengalami berfariasi dimana asupan pasien kurang dari standar kebutuhan. Hal ini dikarenakan ketidaktersediaan makanan, melihat kondisi pasien yang mulai menua dengan aktifitas yang masih mengajar adanya kecenderungan pasien kecapean untuk menyediakan makanan. Tetapi pada dasarnya pasien mau menjalani terapi diet yang yang diberikan. Adapun asupan selama intervensi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6. Monitoring konsumsi pasien selama intervensi

Tanggal Konsumsi Energi dan Zat Gizi
Energi

( kkal )

Protein

( gr )

Lemak

( gr )

KH

( gr )

07/12/10

(Hari I)

Asupan 1118,25 35,23 23 188
Kebutuhan 1886,68 70,75 52,4 283
% kebutuhan 59,79 49,79 43,9 66,5
08/12/10

(Hari II)

Asupan 1138,25 36,95 29,2 178
Kebutuhan 1886,68 70,75 52,4 283
% Kebutuhan 60,33 52,22 55,7 62,8
09/12/10

(Hari III)

Asupan 1108,5 41,02 37,8 152
Kebutuhan 1886,68 70,75 52,4 283
% Kebutuhan 58,75 57,98 72,2 53,6

Sumber : Data Primer 2010

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 1 : Asupan zat gizi pasien selama intervensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan
    1. Pasien didiagnosis menderita DM tipe II NON Obese + Hipertensi
    2. Asupan makanan pasien mengalami penurunan karena ketidaktersediaan makanan di rumah.
    3. Pasien dan keluarga mengikuti kegiatan konsultasi dan tanya jawab dengan baik.
    4. Pasien sudah memahami tujuan pemberian diet.
    5. Diagnosa gizi mengenai domain intake (NI.5.4) menurunnya kebutuhan natrium dibandingkan kebutuhan fisiologis standar dan domain klinik (NC. 2.2) perubahan nilai laboratorium terkait kadar glukosa darah.
    6. B. Saran

Dalam proses konseling sangat dibutuhkan keakraban dengan pasien dan keluarga sebelum memulai konseling, agar komunikasi efektif dan pasien serta keluarga dapat mengungkapkan masalah yang dihadapi dan konselor mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Iqbal. 2008. Gizi untuk Penderita Hipertensi.. http://iqbalali.com/2008/05/27/gizi-untuk-penderita-hipertensi/. Akses 25 Oktober 2010

 

Almatsir Sunita. 2007. Penuntun Diet edisi Terbaru. Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia.

 

Anonim. 2007. Hipertensi Baru.http://www.elexmedia.co.id/pdf/EMK170070981%20-%20Hipertensi.pdf. Akses 25 Oktober 2010.

 

Anonim. 2008. Hipertensi.http://www.conectique.com/tips_solution/health/disease/article.php?article_id=4883. Akses 25 Oktober 2010.

 

Armilawaty, Husnul Amalia dan Ridwan Amiruddin. 2007. Hipertensi dan Faktor Risikonya Dalam Kajian Epidemiologi. http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/12/08/hipertensi-dan-faktor-risikonya-dalam-kajian-epidemiologi/. Akses 25 Oktober 2010.

 

Leksananingrum, Nawangsari, dkk. 2008. Perhitungan Kebutuhan Gizi Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar. Malang

 

Suyono, 2002 dalam Soegondo. Kecenderungan Peningkatan Jumlah Pasien Diabetes. Jakarta: FKUI.

 

Tjokroprawiro, Askandar. 2001. Diabetes Mellitus-Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 

 


Posted in Laporan/Tugas Kuliah | Leave a comment

Sindrom Nefrotik

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Gambaran Umum Penyakit

An A berumur 11 tahun masuk rumah sakit pada tanggal 12 November 2010 dan ditempatkan di Lontara 4  kamar 6 kelas 2 dengan keluhan bengkak di bagian pipi.

Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal.

Data Dasar Pasien

1. Identitas Pasien

Nama                                     :           An A

Umur                                      :           11 tahun

Agama                                   :           Islam

Pekerjaan                              :           Pelajar

Alamat                                    :           Jayapura

No. Register RM                   :           –

Tanggal MRS                        :           12 November 2010

Tanggal Studi Kasus           :           22 November 2010

Diagnosa       Medis             :           Sindrom Nefrotik dan overweight

Ruang Perawatan               :           Kamar 6 Kls II, Lontara 4

  1. 2. Data Subjektif
  2. Keluhan Utama

Bengkak di bagian pipi

  1. Sosial Ekonomi dan Lingkungan

An. A  seorang pelajar sekolah dasar, ayahnya adalah  seorang wiraswasta dan ibu seorang IRT, Agama islam, Suku Bugis.

  1. Kebiasaan Makan
  2. Frekwensi makan 3 x sehari.
  3. Semua makanan disukai.
  4. Tidak ada makanan pantangan
  5. Tidak ada alergi terhadap makanan

3. Data Objektif

  1. a. Antropometri

Umur       = 11 tahun

BB            = 42  kg

TB            = 145 cm

BBI           =  37 kg

CDC        = BB/U           =  x 100% = 116,67%

= TB/U            =  x 100% = 96,03%

= BB/TB         =  x 100% = 113,51%

Status Gizi Lebih (Overweight)

  1. b. Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 1.   Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Ket
(12November2010)

Ureum

Kreatinin

Albumin

Kolesterol total

(21November2010)

pH

Bj

Protein

Glukosa

Bilirubine

Urobilinogen

Hb

 

23

0,8

3,6

417

 

6

1,020

++++/500

Negatif

Negatif

Negatif

14

 

10-50g/dL

<1,3

3,5 – 5 gr/dL

<200 mg/dL

 

4,5-8,0

1,010-1,020

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

13-16

 

N

N

N

 

N

N

N

N

N

N

Sumber : Rekam Medik Pasien 2010

  1. c. Pemeriksaan Fisik Klinis

Tabel 2.   Hasil Pemeriksaan Fisik /Klinis

(Tgl. 22  November 2010)

Jenis Pemeriksaan Hasil
Keadaan umum

BAK

BAB

Tensi

Respirasi

Suhu

Nadi

Baik

Lancar

Baik

160/11200 mmHg

96 x/mnt

24 oC

36,5 x/mnt

Sumber : Rekam Medik Pasien 2010

  1. d. Riwayat Makan

Tabel 3.   Daftar Menu Recall 24 jam sebelum intervensi

Waktu

Makan

Menu Bh. Makanan Jumlah
URT Gram
Pagi Bubur Beras Giling ¾ gls 50
  Kecap Kecap 1 sdm 10
Snack Susu Pediasure 3 sdk takar 30
Siang Bubur Beras Giling 1 ½ gls 100
  Kecap Kecap 1 sdm 10
Snack
Malam Bubur Beras Giling ¾ gls 50
  Kecap Kecap 1 sdm 10

Sumber : Data Primer 2010

Tabel 5.   Asupan zat Gizi sebelum intervensi

Energi Protein Lemak KH Na
Asupan 887,13 kkal 19,97 gr 8,46 gr 177 gr 1210 mg
Kebutuhan 2035 kkal 86,49 gr 52 gr 305 gr 700 mg
% Kebutuhan 43,59 23,1 16,3 58 172,9

  1. e. Skrining Gizi

Tabel  6. Hasil Skrining Gizi Terhadap Pasien

No Indikator Hasil
1 Perubahan BB
2 Nafsu makan kurang
3 Kesulitan mengunyah /& menelan
4 Mual dan muntah
5 Diare
6 Konstipasi
7 Alergi/intoleransi zat Gizi
8 Diet khusus
9 Enteral/parenteral

BAB II

PENENTUAN MASALAH GIZI

  1. A. Diagnosis Gizi
    1. 1. Domain Intake

Tabel 7.1        Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Intake

Problem Etiologi Sign
Kolesterol ↑

Tekanan darah ↑

(NI. 5.4)

 

 

Disebabkan sindrom nefrotik (gangguan fungsi ginjal) Kolesterol total 417mg/dL

Tekanan darah 160/120 mmHg

NI.5.4 Menurunnya kebutuhan Natrium dan kolesterol dibandingkan dengan kebutuhan standar fisiologis yang disebabkan sindrom nefrotik/disfungsi ginjal yang ditandai dengan  Kolesterol total 417mg/dL dan Tekanan darah 160/120 mmHg.

2. Domain Klinik

Tabel 7.2            Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Klinik

Problem Etiologi Sign
Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus

(NC.2.2)

Disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal Hasil pemeriksaan urin:

Protein: ++++/500

Berat badan lebih

(NC.3.3)

Disebabkan pola makan salah Status gizi diatas batas yang dianjurkan untuk usia.

Hasil food frekuensi:

Coto: 3x/minggu

Sate: 3x/minggu

Makan dalam sehari 3-4x dengan

Nasi 3x/hari, 300-400 g /makan

Ikan 2x/hari, 1 ptg sdg /makan

Jarang makan sayuran.

NC.2.2 Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus yang disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan nilai protein dalam urin ++++/500.

NC. 3.3 Berat badan lebih yang disebabkan oleh pola makan yang salah yang di tandai dengan status gizi diatas batas yang dianjurkan untuk usia, Hasil food frekuensi Coto: 3x/minggu, Sate: 3x/minggu, Makan dalam sehari 3-4x dengan Nasi 3x/hari, 300-400 g /makan, Ikan 2x/hari, 1 ptg sdg /makan dan Jarang makan sayuran.

  1. B. Diagnosis Medis

Sindrom Nefrotik + overweight

 

 

 

BAB III

RENCANA TERAPI GIZI

 

  1. A. Rencana Asuhan Gizi

Diit Sindrom Nefrotik + RG II

1. Tujuan diit

Mengganti kehilangan protein terutama albumin

Memonitor hipercholesterolemia

Mengontrol tekanan darah

2. Syarat diit

Energi cukup, untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif

Protein tinggi 17% dri kebutuhan kalori, untuk mengganti protein yang yang terbuang lewat urin

Lemak sedang, 23% dari kebutuhan energi total.

Karbohidrat  rendah,karena pasien menderita sesak nafas

Natrium dibatasi < 700mg /hari

Kolesterol dibatasi < 300mg /hari

3. Perencanaan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

Keb.kalori      = RDA x BBI

= 55 x 37 = 2035

 

P = = 86,49 gr

L =  = 52  gr

KH = =305,25 gr

Na < 700mg

Chol < 300mg

  1. 4. Rencana Edukasi dan Konsultasi Gizi

Tujuan              :   –    Memotivasi pasien untuk patuh terhadap diet yang diberikan.

–      Memberi pengertian tentang makanan yang boleh dikonsumsi dan yang harus dibatasi untuk dikonsumsi

Sasaran : Pasien dan keluarganya

Tempat : Lontara 4 Kelas 2 Kamar 6

Metode : Penyuluhan individu

Alat Peraga : Leaflet dan daftar bahan makanan penukar

Waktu : ± 20 menit

Materi : – Penatalaksanaan diet (Diet Sindrom Nefrotik + RG II)

– Bahan makanan yang dianjurkan, dibatasi      dan dihindari

Evaluasi           : Menanyakan kembali kepada pasien dan keluarganya tentang materi penyuluhan yang telah diberikan.

5. aRencana Monitoring dan Evaluasi

a)    Data antropometri : BB/3 hari

b)    Data Laboratorium : Setiap pemeriksaan

c)    Data pemeriksaan fisik-klinis        : Setiap hari selama 3 hari

d)    Dietary  :  Intake makanan selama 3 hari

e)    Edukasi  : Kepatuhan pasien terhadap diet yang dianjurkan

6.         Pelaksana

Peserta Magang Dietetik Prodi Ilmu Gizi FKM UNHAS

 

  1. B. Implementasi Asuhan Gizi

1. Diet Pasien

Hasil anamnesis menunjukan pasien menderita Sindrom Nefrotik + Overweight. Untuk memenuhi kebutuhan pasien sesuai dengan keadaan dan penyakit maka pasien diberikan ”Diit Sindrom Nefrotik + RG II”.

Jenis diit ini mengandung energi sebesar 2035 kkal, protein yang diberikan yaitu 17% (86,49 gr), lemak 23  % dari total energi (52 gr), karbohidrat merupakan sisa dari protein dan lemak sebesar 60% dari total energi (305,25 gr). Diit pasien diberikan dalam bentuk makanan biasa, pertimbangan pemberian bentuk diit ini dikarenakan pasien masih dalam kondisi kesadaran penuh (composmentis) dan tidak mengalami gangguan mengunyah dan menelan pada daerah mulut dan esofagus.

 

2. Distribusi Makanan Pasien Menurut Menu & Porsi Makanan Sehari

Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa standar kebutuhan energi dan zat gizi harian pasien adalah:

Energi = 2035 kkal                                          Lemak = 52  gr

Protein = 86,49 gr                                            KH   = 305,25 gr

Sehingga berdasarkan standar kebutuhan tersebut, maka distribusi makanan pasien berdasarkan menu dan porsi makanan seharinya direncanakan sebagai berikut :

Tabel 8. Contoh perencanaan distribusi makanan pasien

Menu Bahan Makanan JUMLAH
URT Gram
Pagi 06.00
  • Nasi
Beras giling 1  gls nasi 75
  • Udang telur puyuh
Udang 6 ekr sdg 40
  Telur puyuh 2 btr 20
  • Tumis sayuran
Wortel ¼ gls 25
  Kol 1/3 gls 30
  Sosis daging ¼ ptg sdg 10
  Minyak kelapa ½ sdt 2,5
Snack 10.00      
  • Susu
Pediasure 3 sdk tkr 30
  • Biskuit
Biskuit kemasan 2 keping 20
Siang 12.00      
  • Nasi
Beras giling 1¼ gls nasi 100
  • Sate
Daging 1 ptg sdg 40
  Kacang tanah 1 sdm 5
  Kecap ½ sdm 5
  • Tempe goreng
Tempe 2 ptg sdg 50
  Minyak kelapa 1 sdm 5
  • Gulai sayuran
Ayam ½ ptg sdg 20
  Kacang panjang ¼ gls 25
  Labu waluh ¼ gls 25
  Santan 1 sdm 10
  • Buah
Pisang 1 bj sdg 50
Selingan 16.00      
  • Susu
Pediasure 3 sdk tkr 40
  • Roti tawar
Roti 1 ptg 20
Malam 18.00      
  • Nasi
Beras giling 1 gls 100
  • Ikan gabus bb.pucung
Gabus 1 ptg 50
  Jeruk nipis ½ sdt 2
  Minyak kelapa ½ sdt 2,5
  • Tahu bacem
Tahu 2 ptg 50
  Gula aren 1 sdt 5
  • Cah labu siam
Labu siam ½ gls 50
  Wortel 1/3 gls 30
  • Buah
Rambutan 4 bh 40

Menu tersebut mengandung E =2016,6 kkal (99,09%), P = 83,14 gr (96,13%), L = 49,9 gr (95,9 %), KH = 301 gr (98,6%), Na = 83,63 (83,63%), Kolesterol= 90mg (30%).

BAB  IV

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. TINJAUAN TENTANG SINDROM NEFROTIK
    1. 1. Definisi

Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (Ngastiyah, 1997).

Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).

Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria,  hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001).

Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh:

  • Peningkatan protein dalam urin secara bermakna (proteinuria)
  • Penurunan albumin dalam darah
  • Edema
  • Serum cholesterol yang tinggi (hiperlipidemia)

Tanda – tanda tersebut dijumpai disetiap kondisi yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permiabilitas glomerulus (Suryadi dan Yuliani, 2001).

  1. 2. Etiologi

Penyebab sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen – antibodi. Umumnya etiologi dibagi menjadi ( Mansjoer Arif, dkk. 1999):

þ  Sindrom nefrotik bawaan

Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap semua pengobatan. Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.

þ  Sindrom nefrotik sekunder

Disebabkan oleh :

– Malaria kuartana atau parasit lainnya.

– Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid.

– Glumerulonefritis akut atau kronik,

– Trombosis vena renalis.

– Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, air raksa.

– Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif hipokomplementemik.

þ  Sindrom nefrotik idiopatik

Tidak diketahui sebabnya atau disebut sindroma nefrotik primer. Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dgn pemeriksaan mikroskop biasa dan mikroskop elektron, Churk dkk membaginya menjadi :

a. Kelainan minimal

Pada mikroskop elektron akan tampak foot prosessus sel epitel berpadu. Dengan cara imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG pada dinding kapiler glomerulus.

  1. Nefropati membranosa

Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa proliferasi sel. Prognosis kurang baik.

  1. Glomerulonefritis proliferatif

Glomerulonefritis proliferatif esudatif difus. Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. Pembengkakan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat, dengan penebalan batang lobular, terdapat prolefirasi sel mesangial yang tersebar dan penebalan batang lobular, dengan bulan sabit ( crescent), didapatkan proliferasi sel mesangial dan proliferasi sel epitel sampai kapsular dan viseral. Prognosis buruk, Glomerulonefritis membranoproliferatif, Proliferasi sel mesangial dan penempatan fibrin yang menyerupai membran basalis di mesangium. Titer globulin beta-IC atau beta-IA rendah dan lain-lain perubahan proliferasi yang tidak khas.

þ  Glomerulosklerosis fokal segmental

Pada kelainan ini yang mencolok sklerosis glomerulus. Sering disertai atrofi tubulus. Prognosis buruk.

  1. 3. Patogenesis

Terjadi proteinuria akibat peningkatan permiabilitas membran glomerulus. Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis hepar dilampui, meski telah berusaha ditingkatkan, terjadi hipoalbuminemia. Hal ini menyebabkan retensi garam dan air ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).

Menurunnya tekanan osmotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler kedalam ruang cairan ekstra seluler. Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem imun angiotensin, menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).

Hilangnya protein  dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia) ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).

Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan karena hypoalbuminemia, hyperlipidemia atau defisiensi seng ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).

Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia (Mansjoer Arif, dkk. 1999).

þ  Manifestasi Klinik

Gejala utama yang ditemukan adalah (Suryadi dan Yuliani, 2001):

  • Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak.
  • Hipoalbuminemia < 30 g/l.
  • Edema generalisata. Edema terutama jelas pada kaki, namun dapat ditemukan  edema muka, ascxites dan efusi pleura.
  • Anorexia
  • Fatique
  • Nyeri abdomen
  • Berat badan meningkat
  • Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia.
  • Hiperkoagualabilitas, yang akan meningkatkan resiko trombosis vena dan arteri.

B.TINJAUAN TENTANG DIET SINDROM NEFROTIK DAN RG II

DIET SINDROM NEFROTIK

  1. a. Gambaran Umum

Sindroma nefrotik atau nefrosis adalah kumpulan manifestasi penyakit yang ditandai oleh ketidakmampuan ginjal untuk memelihara keseimbangan nitrogen sebagai akibat meningkatnya permeabilitas membran kapiler glomerulus. Kehilangan protein melalui urin yang ditandai oleh proteinuria masif (>3,5 g protein/24jam) menyebabkan hipoalbuminemia yang diikuti oleh edema (retensi air), hipertensi, hiperlipidemia, anoreksia, dam rasa lemah (Almatsier, 2007).

b. Tujuan Diet

Tujuan Diet Sindrom Nefrotik adalah untuk (Almatsier, 2007) :

  1. Mengganti kehilangan protein terutama albumin.
  2. Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
  3. Memonitor hiperkolesterolemia dan penumpukan trigliserida.
  4. Mengontrol hipertensi.
  5. Mengatasi anoreksia.

c. Syarat Diit

Syarat Diit Sindrom nefrotik adalah (Almatsier, 2007):

  1. Energi cukup, untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif yaitu 35 kkal/kg BB per hari.
  2. Protein sedang, yaitu 1 g/kg BB, atau0,8 g/kg BB ditambah jumlah protein yang dikeluarkan melalui urin. Utamakan penggunaan protein bernilai biologik tinggi.
  3. Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energy total.
  4. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energy total
  5. Natrium dibatasi, yaitu 1-4 d sehari, tergantung berat ringannya edema.
  6. Kolesterol dibatasi <300mg, begitu pula gula murni, bila ada peningkatan trigliserida darah.
  7. Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui urin ditambah 500 ml pengganti cairan yang dikeluarkan melalui kulit dan pernafasan.
  8. 4. Jenis Diit dan Indikasi Pemberian

Karena gejala bersifat sangat individual, diaet di susun secara individual pula, dengan menyatakan banyak protein dan natrium yang dibutuhkan di dalam diet (Almatsier, 2007).

DIET RENDAH GARAM II (600-800 mg Na)

Rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan/atau hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Rendah Garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½ sdt garam dapur (2 g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya (Almatsier, 2007).

BAB  V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A. Monitoring
  2. 1. Monitoring Diet Pasien

Hasil anamnesis menunjukan pasien menderita sindrom nefrotik dan overweight, selain itu didapati pula tekanan darah pasien tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan pasien sesuai dengan keadaan dan penyakit maka pasien diberikan ”Diit Sindrom Nefrotik dan RG II”.

Jenis diit ini mengandung energi sebesar 2035 kkal, protein yang diberikan yaitu 17% (86,49 gr), lemak 23  % dari total energi (52  gr), karbohidrat merupakan sisa dari protein dan lemak sebesar 60% dari total energi (305,25 gr). Diit pasien diberikan dalam bentuk makanan biasa, pertimbangan pemberian bentuk diit ini dikarenakan pasien masih dalam kondisi kesadaran penuh (composmentis) dan tidak mengalami gangguan mengunyah dan menelan pada daerah mulut dan esofagus.

Berdasarkan hasil monitoring asupan makanan selama studi kasus berlangsung, didapatkan data asupan makanan pasien dalam bentuk zat gizi seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 9. Distribusi Hasil Monitoring Asupan Makanan Pasien

HARI URAIAN ASUPAN ZAT GIZI
E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
Sebelum Intervensi

22/11/10

Asupan 887,13 19,97 8,46 177
Kebutuhan 2035 86,49 52 305,25
% Asupan 43,59 23,1 16,3 58
I

23/11/10

Asupan 153,3 9,33 13,3 33,3
Kebutuhan 2035 86,49 52 305,25
% Asupan 15,07 10,79 25,6 10,9
II

24/11/10

Asupan 1394,3 54,89 40,9 200
Kebutuhan 2035 86,49 52 305,25
% Asupan 68,52 63,47 78,6 65,4
III

25/11/10

Asupan 1931,6 59,03 70,4 327
Kebutuhan 2035 86,49 52 305,25
% Asupan 94,92 68,25 135 84,4

Sumber : Data Primer Terolah, 2010

Grafik 1. Distribusi Hasil Monitoring Asupan Makanan Pasien

 

Berdasarkan tabel 9 dan grafik 1 diatas, dapat diketahui bahwa asupan energi dan zat gizi pasien pada intervensi hari pertama adalah: energi 15,07%, protein 10,79%, lemak 25,6%, karbohidrat 10,9%. Pada intervensi hari kedua: energi 68,52%, protein 63,47%, lemak 78,6%, karbohidrat 65,4%. Dan pada intervensi hari terakhir : energi 94,92%, protein 68,25%, lemak 135%, dan karbohidrat 84,4%.

Asupan pasien pada intervensi hari kedua menurun drastis, hal ini disebabkan pasien menjalani puasa dan hanya diperbolehkan minum susu karena pasien dijadwalkan akan menjalani rontgen keesokan harinya. Dapat di lihat dari grafik asupan makanan pasien dari hari ke hari mengalami peningkatan terutama pada asupan lemak. Asupan makanan memang sudah memenuhi kebutuhan energi namun asupan protein dan karbohidrat belum memenuhi kebutuhan.

Hasil wawancara mengenai food frekuensi adalah Coto: 3x/minggu, Sate: 3x/minggu, Makan dalam sehari 3-4x dengan Nasi 3x/hari, 300-400 g /makan, Ikan 2x/hari, 1 ptg sdg /makan dan jarang makan sayuran.

3. Monitoring Pengukuran Antropometri

Umur          : 11 tahun

TB              : 145 cm

BB              : 42 kg

BBI             : 37 kg

Status Gizi berdasarkan CDC : Overweight

Berdasarkan hasil monitoring berat badan pasien sebelum dan intervensi tidak terjadi perubahan berat badan. Karena tidak terjadi perubahan berat badan pasien, maka tidak terjadi pula perubahan status gizi pasien yaitu berada pada status gizi Overweight atau berat badan lebih dengan domain klinik NC.3.3

  1. 2. Monitoring Pemeriksaan Fisik/Klinik

Tabel 11. Distribusi Perkembangan Fisik dan Klinis Pasien

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
22/11/2010 23/11/2010 24/11/2010 25/11/2010
Kesadaran

Keadaan umum

Tekanan Darah

Nafas

Suhu

Nadi

BAK

BAB

Sadar

Baik

160/120

96

24

36,5

Lancar

Biasa

 

Sadar

Baik

150/110

120

24

36,5

Lancar

Biasa

Sadar

Baik

Lancar

Biasa

Sadar

Baik

Lancar

Biasa

Sumber : Data Sekunder Terolah, 2010

Dari table 11 diketahui bahwa pasien  memiliki masalah menyangkut fisik dan klinisnya. Pasien hanya memiliki memiliki masalah di pernafasan dan tekanan darah. Pernafasan dan tekanan darah pasien meningkat sehingga asupan energi dari karbohidrat dikurangi dan menurunnya kebutuhan Natrium dibandingkan dengan kebutuhan standar fisiologis dengan domain intake NI. 5.4.

  1. 3. Monitoring Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 12. Distribusi Perkembangan Pemeriksaan Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal
Sblm Intervensi Intervensi
12 & 22/11/10 23-25/10/10
Ureum

Kreatinin

Albumin

Kolesterol total

pH

Bj

Protein

Glukosa

Bilirubin

Hb

 

 

23 mg/dl

0,8 mg/dl

3,6 gr/dL

417 mg/dL

6

1,020

++++/500 Negatif

Negatif

14 g/dL

10-50g/dL

<1,3

3,5 – 5 gr/dL

<200mg

4,5-8,0

1,010-1,020

Negatif

Negatif

Negatif

13 – 16g/dL

Sumber : Data Sekunder Terolah, 2010

Dari table 12 diketahui bahwa pasien memiliki kadar Protein dalam urin dan kadar kolesterol dalam darah meningkat. Dari hasil  pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi dengan domain klinik NC.2.2. Dan belum didapati perubahan hasil laboratorium selama dan setelah intervensi karena pasien belum melakukan pemeriksaan laboratorium lagi.

B. Hasil Motivasi Diet Pasien

  1. 1. Perkembangan Pengetahuan Gizi

Pada intervensi hari pertama, pasien dan anggota keluarga yang lain (ayah pasien) diberikan edukasi mengenai diet sindrom nefrotik dan RG II dalam hal ini mengenai bahan-bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan bagi penderita sindrom nefrotik.

Pasien juga diberitahu mengenai tujuan dari diet sindrom nefrotik ini yaitu, memperbaiki status gizi  pada pasien, memberi makanan secukupnya dan mudah dicerna, mempercepat proses penyembuhan dan mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.

Dengan adanya penambahan informasi ini, membuat pasien dan keluarganya menjadi paham tentang bahan-bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan bagi penderita sindrom nefrotik.

  1. 2. Sikap Dan Perilaku Terhadap Diet

Dengan bertambahnya pengetahuan keluarga pasien maka terjadi perubahan sikap dan perilaku pasien ditandai dengan pasien tetap menjaga nafsu makan meskipun asupan makanan belum seimbang.

C. Evaluasi Asuhan Gizi Pasien

  1. 1. Konsumsi Energi Dan Zat Gizi

Hasil monitoring evaluasi asupan energi dan zat gizi selama studi kasus didapatkan data bahwa asupan makanan pasien mengalami peningkatan asupan. Pada recall sebelum intervensi asupan energi sebesar 43,59%, protein 23,1%, lemak 16,3%, karbohidrat 58%. Pada hari pertama intervensi asupan energi  15,07%, protein 10,79%, lemak 25,6%, karbohidrat 10,9%. Pada hari kedua intervensi asupan energi  68,52%, protein 63,47%, lemak 78,6%, karbohidrat 65,4%. Pada terakhir intervensi asupan energi 94,92%, protein 68,25%, lemak 135% dan karbohidrat 84,4%.

  1. 2. Evaluasi Status Gizi

Status gizi pasien belum mengalami perubahan hal ini disebabkan kegiatan intervensi yang hanya berlangsung selama tiga hari saja. Sebagaimana kita ketahui, bahwa peningkatan berat badan sangat dipengaruhi oleh kualitas, dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi minimal selama 7 hari.

  1. 3. Perkembangan Pengobatan Yang Berhubungan Dengan Gizi

Pengobatan yang berhubungan dengan gizi tidak terpantau selama studi kasus dilaksanakan.

  1. 4. Perkembangan Terapi Diet

Terapi diet selama studi kasus berlangsung tidak mengalami perubahan yaitu tetap menggunakan diet Sindrom Nefrotik + RG II dengan kebutuhan energi sebesar 2035 kkal, protein sebanyak 86,49 gr, lemak sebanyak 52 gr, dan karbohidrat sebanyak 305,25 gr. Pemberian makanan dengan konsistensi biasa, pemberian secara oral dengan frekuensi pemberian 3 kali makanan pokok dan 2 kali selingan.

BAB  VI

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

  1. A. Kesimpulan
    1. Berdasarkan data subyektif dan obyektif yang ada, pasien didiagnosa menderita Sindrom Nefrotik dan Overweight.
    2. Pasien status gizi menurut CDC adalah overweight.
    3. Jenis diet yang diberikan adalah Diet Sindrom Nefrotik + RG II dengan konsistensi makanan biasa, pemberian secara oral dengan frekuensi 3 kali makanan pokok dan 2 kali makanan selingan.
    4. Asupan makanan pasien selama intervensi mengalami peningkatan dan dapat memenuhi kebutuhan energi walaupun asupan zat gizi makro kurang seimbang.
    5. Diagnosis gizi yang diberikan adalah Menurunnya kebutuhan natrium dan kolesterol dibandingkan dengan kebutuhan standar fisiologis NI. 5.4, perubahan nilai laboratorium NC 2.2, dan berat badan lebih NC.3.3.
    6. B. Saran
      1. Terapi diet dan edukasi gizi harus terus dilakukan untuk memberikan motivasi pada pasien dan keluarganya.
      2. Pemeriksaan antropometri, fisik-klinis dan laboratorium harus tetap dipantau untuk melakukan identifikasi masalah gizi sedini mungkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2007. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Suryadi dan Yuliani, Rita. 2001. Praktek klinik Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : Sagung Seto.

 

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC.

 

Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga, Jilid 1. Media Aesculapius


Posted in Laporan/Tugas Kuliah | Leave a comment

Ca. Serviks

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Gambaran Umum Penyakit

Ny. D berumur 42 tahun masuk rumah sakit pada tanggal 02 November 2010 dan ditempatkan di Lontara I atas kamar 6 kelas 3 dengan keluhan batuk, demam, haid tidak teratur, pendarahan, dan penurunan BB.

Kanker serviks atau kanker mulut rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina), kanker serviks merupakan karsinoma ginekologi yang terbanyak diderita.

  1. B. Data Dasar Pasien

1. Identitas Pasien

Nama                               :           Ny. D

Umur                                :           42 tahun

Agama                             :           Islam

Pekerjaan                        :           IRT

Alamat                             :           Sidrap

No. Register RM             :           439717

Tanggal MRS                 :           02 November 2010

Tanggal Studi Kasus    :           08 November 2010

Diagnosa Medis             :           Ca.Servix std IVA+Kemoterapi

Ruang Perawatan         :           Kamar 6 Kls III, Lontara 1 atas

2. Data Subjektif

  1. Keluhan Utama

Batuk, gatal di bagian lengan atas, dan keputihan.

  1. Sosial Ekonomi dan Lingkungan

Ny.D  seorang IRT dan suaminya seorang petani, Agama islam, Suku Bugis.

  1. Kebiasaan Makan
  2. Frekwensi makan 3 x sehari.
  3. Semua makanan disukai.
  4. Tidak ada makanan pantangan
  5. Tidak ada alergi terhadap makanan

3. Data Objektif

  1. a. Antropometri

Umur        = 42 tahun

BB = 60  kg

TB            = 155 cm

BBI           =  49,5 kg

IMT           = 25 (Status Gizi Obesitas 1)

  1. b. Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 1.    Hasil Pemeriksaan Laboratorium

(Tgl. 07 November 2010)

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Ket
(08November2010) 

GDS

Ureum

Kreatinin

SGOT

SGPT

Albumin

HB

 

121

22

0,5

52

31

2,2

11,7

 

140 mg/dl

10-50 mg/dl

<1,3 mg/dl

<38 u/l

<41 u/l

3,5-5 gr/dl

12-14 gr/dL

 

N

N

N

N

Sumber : Rekam Medik Pasien 2010

  1. c. Pemeriksaan Fisik Klinis

Tabel 2.   Hasil Pemeriksaan Fisik /Klinis

(Tgl. 08  November 2010)

Jenis Pemeriksaan Hasil
Keadaan umum 

BAK

BAB

Tensi

Respirasi

Suhu

Nadi

Baik 

Lancar

Baik

100/70 mmHg

80 x/mnt

36,6 oC

20 x/mnt

Sumber : Rekam Medik Pasien 2010

  1. d. Riwayat Makan

Tabel 3.    Daftar Menu Recall 24 jam sebelum intervensi

Waktu 

Makan

Menu Bh. Makanan Jumlah
URT Gram
Pagi Nasi Beras Giling 1 gls 75
Kakap Rica-Rica Kakap ½ ptg 40
Tempe mendoan Tempe 

Tepung terigu

Tepung beras

Minyak kelapa

1 ptg sdg 

½ sdm

½ sdm

½ sdt

30 

5

5

5

Snack Biskuit (LRS) Biskuit 2 keping 20
Siang Nasi Beras Giling 1 ½ gls 100
Ikan Goreng Bandeng 1 ptg 40
Minyak Kelapa 1 sdt 5
Sup kc. Merah Kc. Merah ¼ gls 25
Sayur lodeh Nangka muda 

Labu siam

Kc.panjang

Terong

Kelapa

1/6 gls 

1/3 gls

¼ gls

1/5 gls

1/6 gls

15 

30

25

20

15

Buah Pisang raja Pisang raja 1 bh 50
Snack Biskuit (LRS) Biskuit 2 kpg 20
Malam Nasi Beras giling 1 ½ gls 100
Telur rendang Telur ayam ½ bj 35
Oseng2 kc.pjg Kc.pjg ½ gls 40

Sumber : Data Primer 2010

Tabel 5.    Asupan zat Gizi sebelum intervensi

Energi Protein Lemak KH
Asupan 1870,9 kkal 62,59 gr 29,6 gr 335 gr
Kebutuhan 1884,4 kkal 41,88 gr 31,4 gr 306 gr
% Kebutuhan 99,283 149,4 94,3 109

  1. e. Skrining Gizi

Tabel  6.   Hasil Skrining Gizi Terhadap Pasien

No Indikator Hasil
1 Perubahan BB +
2 Nafsu makan kurang
3 Kesulitan mengunyah /& menelan
4 Mual dan muntah
5 Diare
6 Konstipasi
7 Alergi/intoleransi zat Gizi
8 Diet khusus
9 Enteral/parenteral

BAB II

PENENTUAN MASALAH GIZI

  1. A. Diagnosis Gizi
    1. 1. Domain Intake

Tabel 7.1        Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Intake

Problem Etiologi Sign
Asupan energi yang berlebihan 

(NI 1.5)

 

Disebabkan kurangnya pengetahuan, pola makan yang salah dan tidak seimbang Overweight (IMT: 25). 

Hasil food frekuensi:

Nasi= 3x/hari, sekali makan 350-400 gr

Ikan= 3x/hari, sekali makan 1 ptg sdg.

Sayur=3x/hari, suka makan sayur daun-daunan

NI 1.5 Intake makanan dan minuman oral yang lebih besar dibandingkan rujukan standar atau rekomendasi berdasarkan kebutuhan fisiologis yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang zat gizi, pola makan yang salah dan tidak seimbang yang ditandai oleh status gizi pasien overweight (IMT: 25) dan hasil food frekuensi Nasi= 3x/hari, sekali makan 350-400 gr, Ikan= 3x/hari, sekali makan 1 ptg sdg, Sayur=3x/hari, suka makan sayur daun-daunan.

2. Domain Klinik

Tabel 7.2        Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Klinik

Problem Etiologi Sign
Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus 

(NC.2.2)

Disebabkan oleh gangguan fungsi organ akibat perubahan biokimia Hasil pemeriksaan: 

  • HGB  :  11,7 g/dl
  • SGOT  :  52mg/dl
  • Albumin : 2,2 g/dl

 

NC.2.2 Perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi khusus yang disebabkan oleh gangguan fungsi organ akibat perubahan biokimia yang ditandai dengan nilai HGB  :  11,7 g/dl, SGOT  :  52mg/dl dan Albumin : 2,2 g/dl.

  1. B. Diagnosis Medis

Karsinoma serviks IV A + Kemoterapi

BAB III

RENCANA TERAPI GIZI

  1. A. Rencana Asuhan Gizi

Diit Kanker (TP)

1. Tujuan diit

Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat thd makan oleh pasien dan keluarga.

Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit.

Mencegah atau menghambat penurunan BB sec.berlebihan.

2. Syarat diit

Energi tinggi dan disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan.

Protein tinggi 20% dari TEE

Lemak sedang, antara 15-20% dari kebutuhan energi total.

Karbohidrat cukup yaitu sisa dari kebutuhan energi total dikurangi kebutuhan protein dan lemak.

3. Perencanaan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

BEE=655+(9,8xBBi)+(1,7xTB)-(4,7xU)

BEE=655+(9,8×49,5)+(1,7×155)-(4,7×42

=1223,65

FA

T =10/24 x 1                   = 0,4

D = 12/24 x 1,08           = 0,54

B = 1/24 x 2,37              = 0,09

J = 1/24 x 1,17              = 0,05   +

1,08 → 1,1

FS = Kanker = 1,4

TEE       = BEE x FA x FS

= 1223,65x 1,1. 1,4

= 1884,42 kkal

P =   = 94,22 gr

L =    = 41,88  gr

KH =   =282,66 gr

4. Rencana Edukasi dan Konsultasi Gizi

Tujuan              :   –    Memotivasi pasien untuk patuh terhadap diet yang diberikan.

–      Memberi pengertian tentang makanan yang boleh dikonsumsi dan yang harus dibatasi untuk dikonsumsi

Sasaran : Pasien dan keluarganya

Tempat : Lontara I Kelas 3 Kamar 6

Metode : Penyuluhan individu

Alat Peraga : Leaflet dan daftar bahan makanan penukar

Waktu : ± 20 menit

Materi : – Penatalaksanaan diet (Diet Kanker)

– Bahan makanan yang dianjurkan, dibatasi  dan dihindari

Evaluasi           : Menanyakan kembali kepada pasien dan keluarganya tentang materi penyuluhan yang telah diberikan.

5. aRencana Monitoring dan Evaluasi

a)    Data antropometri : BB/3 hari

b)    Data Laboratorium : Setiap pemeriksaan

c)    Data pemeriksaan fisik-klinis  : Setiap hari selama 3 hari

d)    Dietary  :  Intake makanan selama 3 hari

e) Edukasi  : Kepatuhan pasien terhadap diet yang dianjurkan

6. Pelaksana

Peserta Magang Dietetik Prodi Ilmu Gizi FKM UNHAS

B. Implementasi Asuhan Gizi

1. Diet Pasien

Hasil anamnesis menunjukan pasien menderita kanker serviks IV A dan sedang menjalani kemoterapi. Untuk memenuhi kebutuhan pasien sesuai dengan keadaan dan penyakit maka pasien diberikan ”Diit Kanker (TP)”.

Jenis diit ini mengandung energi sebesar 1884,42 kkal, protein yang diberikan yaitu 20% (94,22 gr), lemak 20  % dari total energi (41,88  gr), karbohidrat merupakan sisa dari protein dan lemak sebesar 60% dari total energi (282,66 gr). Diit pasien diberikan dalam bentuk makanan biasa, pertimbangan pemberian bentuk diit ini dikarenakan pasien masih dalam kondisi kesadaran penuh (composmentis) dan tidak mengalami gangguan mengunyah dan menelan pada daerah mulut dan esofagus.

2. Distribusi Makanan Pasien Menurut Menu & Porsi Makanan Sehari

Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa standar kebutuhan energi dan zat gizi harian pasien adalah:

Energi = 1884,42 kkal                              Lemak = 41,88  gr

Protein = 94,22 gr                                     KH   = 282,66 gr

Sehingga berdasarkan standar kebutuhan tersebut, maka distribusi makanan pasien berdasarkan menu dan porsi makanan seharinya direncanakan sebagai berikut :

Tabel 8. Contoh perencanaan distribusi makanan pasien

Menu Bahan Makanan JUMLAH
URT Gram
Pagi 06.00
  • Nasi
Beras giling ¾  gls nasi 50
  • Ikan goreng
Bandeng 1 ptg 60
Minyak Kelapa 1 sdt 5
  • Tim tempe
Tempe 2 ptg 50
  • Tumis buncis
Buncis ¼ gls 25
Wortel 1/3 gls 30
Minyak kelapa ½ sdt 2,5
Snack 10.00
  • Jus wortel
Wortel ½ gls 100
Siang 12.00
  • Nasi
Beras giling 1¼ gls nasi 100
  • Kari ayam
Ayam 1 ptg sdg 50
Santan 1 sdm 10
Minyak kelapa ½ sdt 2,5
  • Tahu goreng
Tahu 1 ptg sdg 50
Minyak kelapa 1 sdm 5
  • Sup brokoli
Brokoli 1/3 gls 40
Jagung kuning 1/6 gls 20
  • Buah
Pisang 1 bj bsr 100
Selingan 16.00
  • Susu
Tepung susu 3 sdk tkr 40
Gula pasir 1  sdm 10
Malam 18.00
  • Nasi
Beras giling 1 ½ gls nasi 100
  • Ikan pallumara
Bandeng 1 ptg 60
  • Sop tahu
Tahu 2 ptg 50
Wortel 1/5 gls 20
Kapri muda 1/6 gls 15
  • Buah
Pepaya 1 ptg 80

Menu tersebut mengandung E =1926,7 kkal (102,24%), P = 89,53 gr (95,02%), L = 43,6 gr (104 %), dan KH = 296 gr (105%).

BAB  IV

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. TINJAUAN TENTANG KANKER SERVIKS
  2. 1. Definisi

Penyakit kanker leher rahim yang istilah kesehatannya adalah kanker servik (Cervical Cancer) merupakan kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Anonim, 2008).

Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di- sekitarnya (Anonim1, 2008).

Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan kanker pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher rahim (cervical cancer), sebanyak 80 persen terjadi pada wanita yang hidup di negara berkembang. Sedikitnya 231.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi karena pasien datang dalam stadium lanjut (Garcia,2006).

Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum wanita Indonesia. saat ini ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain itu, lebih dari 70 persen kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut (Anonim2, 2006).

  1. 2. Klasifikasi

þ  Perjalanan penyakit kanker serviks dari pertama kali terinfeksi memerlukan waktu sekitar 10-15 tahun. Oleh sebab itu kanker serviks biasanya ditemukan pada wanita yang sudah berusia sekitar 40 tahun.Ada empat stadium kanker serviks iaitu Stadium satu kanker masih terbatas pada serviks (IA dan IB), pada stadium dua kanker  meluas di serviks tetapi tidak ke dinding pinggul (IIA menjalar ke vagina/liang senggama, IIB menjalar ke vagina dan rahim), pada stadium III kanker menjalar ke vagina, dinding pinggul dan nodus limpa (IIIA menjalar ke vagina,IIIB menjalar ke dinding pinggul, menghambat saluran kencing, mengganggu fungsi ginjal dan menjalar ke nodus limpa), pada stadium empat kanker menjalar ke kandung kencing, rektum, atau organ lain (IVA: Menjalar ke kandung kencing, rectum, nodus limpa, IVB: Menjalar ke panggul and nodus limpa panggul, perut, hati, sistem pencernaan, atau paru-paru) (Murtiningsih,2010).

þ  Gejala Klinis

Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut (Aziz, 1985):

  1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
  2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
  3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
  4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.
  5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
  6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
  7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.
  8. 3. Etiologi

Perjalanan penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, dimulai dari karsinogenesis yang awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi menunjukkan 90% lebih kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papilomma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk. HPV merupakan faktor inisiator kanker serviks. Oncoprotein E6 dan E7 yan berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan. Onkoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sedangkan onkoprotein E7 akan mengikat TSG Rb, ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel dapat berjalan tanpa control (Putri, 2005).

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks, antara lain adalah :

þ  Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usiA muda.

Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun.

þ  Berganti-ganti pasangan seksual

Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping.

þ  Merokok

Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping merupakan ko-karsinogen infeksi virus.

þ  Defisiensi zat gizi

Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A).

þ  Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi, dan iritasi menahun

þ  Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970).

þ  Gangguan sistem kekebalan.

þ   Pemakaian pil KB.

þ   Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun.

þ  Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin).

  1. 4. Patogenesis

Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel, perubahan neoplastik, berkembang menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih. Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium displasia (ringan, sedang dan berat) menjadi karsinoma insitu dan akhirnya invasif. Meskipun kanker invasif berkembang melalui perubahan intraepitel, tidak semua perubahan ini progres menjadi invasif. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak 3-35%. Bentuk ringan  displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar antara 1 – 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari  karsinoma insitu menjadi invasif 3 – 20 tahun (Mansyoer, 2008).

Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya perubahan displasia yang perlahan -lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 – 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Karsinoma serviks dapat meluas ke arah segmen bawah uterus dan kavum uterus (Mansyoer, 2008).

Penyebaran kanker ditentukan oleh stadium dan ukuran tumor, jenis histologik dan ada tidaknya invasi ke pembuluh darah, anemis hipertensi dan adanya demam. Penyebaran dapat pula melalui metastase limpatik dan hematogen. Bila pembuluh limfe terkena invasi, kanker dapat menyebar ke pembuluh getah bening pada servikal dan parametria, kelenjar getah bening obtupator, iliaka eksterna dan kelenjar getah bening hipogastrika. Dari sini tumor menyebar ke kelenjar getah bening iliaka komunis dan pada aorta. Secara  hematogen, tempat penyebaran terutama adalah paru -paru, kelenjar getah bening mediastinum dan supravesikuler, tulang, hepar, empedu, pankreas dan otak (Mansyoer, 2008).

  1. 5. Manifestasi Klinik

Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi, keputihan warna putih atau purulen yang berbau dan tidak gatal, perdarahan pascakoitus, perdarahan spontan, dan bau busuk yang khas. Dapat juga ditemukan gejala karena metastasis seperti obstruksi total vesika urinaria. Pada yang lanjut ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, dan anemia. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar, ireguler,teraba lunak. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologik dan jaringan yang diperoleh dari biopsy (Mansyoer, 2008).

  1. 6. Diagnosis

Staging untuk kanker serviks berdasarkan pemeriksaan klinis, sehingga pemeriksaan yang lebih teliti dan cermat dibutuhkan untuk penegakkan diagnosis. Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan. Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan. Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti palpasi, inspeksi, komposkopi, kuretase endoserviks, histeroskopi, sistoskopi, proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk pemeriksaan klinis. Interpretasi dari limfangografi, arteriografi, venografi, laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif (Putri, 2005).

Pemeriksaan patologi anatomi setelah prosedur operasi dapat menjadi data yang akurat untuk penyebaran penyakit, tetapi penemuan ini tidak dianjurkan untuk menjadi perubahan diagnosis staging sebelumnya (Putri, 2005).

  1. 7. Penatalaksanaan

™ Manajemen Tumor Insitu

Manajemen yang tepat diperlukan pada karsinoma insitu. Biopsi dengan kolposkopi oleh onkologis berpengalaman dibutuhkan untuk mengeksklusi kemungkinan invasi sebelum terapi dilakukan. Pilihan terapi pada pasien dengan tumor insitu beragam bergantung pada usia, kebutuhan fertilitas, dan kondisi medis lainnya. Hal penting yang harus diketahui juga adalah penyebaran penyakitnya harus diidentifikasi dengan baik.

Karsinoma insitu digolongkan sebagai high grade skuamous intraepitelial lesion (HGSIL). Beberapa terapi yang dapat digunakan adalah loop electrosurgical excision procedure (LEEP), konisasi, krioterapi dengan bimbingan kolposkopi, dan vaporisasi laser. Pada seleksi kasus yang ketat maka LEEP dapat dilakukan selain konisasi. LEEP memiliki keunggulan karena dapat bertindak sebagai biopsi luas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Keberhasilan eksisi LEEP mencapai 90% sedangkan konisasi mencapai 70-92%. Teknik lain yang dapat dilakukan untuk terapi karsinoma insitu adalah krioterapi yang keberhasilannya mencapai 80-90% bila lesi tidak luas (<2,5 cm), tetapi akan turun sampai 50% apabila lesi luas (> 2,5 cm). Evaporasi laser pada HGSIL memberikan kerbehasilan sampai 94% untuk lesi tidak luas dan 92% untuk lesi luas. HGSIL yang disertai NIS III memberikan indikasi yang kuat untuk dilakukan histerektomi. Pada 795 kasus HGSIL yang dilakukan konisasi didapatkan adanyarisiko residif atau kegagalan 0,9-1,2% untuk terjadinya karsinoma invasive (Putri, 2005).

™  Manajemen Mikroinvasif

Diagnosis untuk stadium IA1 dan IA2 hanya dapat ditegakkan setelah biopsi cone dengan batas sel-sel normal, trakelektomi, atau histerektomi. Bila biopsi cone positif menunjukkan CIN III atau kanker invasif sebaiknya dilakukan biopsi cone ulangan karena kemungkinan stadium penyakitnya lebih tinggi yaitu IB. Kolposkopi dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya vaginal intraepithelial neoplasia (VAIN) sebelum dilakukan terapi definitif.

Stadium serviks IA1 diterapi dengan histerektomi total baik abdominal maupun vaginal. Apabila ada VAIN maka vagina yang berasosiasi harus ikut diangkat. Pertimbangan fertilitas pada pasien-pasien dengan stadium ini mengarahkan terapi pada hanya biopsi cone diikuti dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan, dan 12 bulan bila hasilnya negatif. Stadium serviks IA2 berasosiasi dengan penyebaran pada kelenjar limfe sampai dengan 10% sehingga terapinya adalah modified radical hysterectomy diikuti dengan limfadenektomi. Pada stadium ini bila kepentingan fertilitas masih dipertimbangkan atau tidak ditemukan bukti invasi ke kelenjar limfe maka dapat dilakukan biopsi cone yang luas disertai limfadenektomi laparoskopi atau radikal trakelektomi dengan limfadenektomi laparoskopi. Observasi selanjutnya dilakukan dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan dan 12 bulan.

™  Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Awal

Pasien-pasien dengan tumor yang tampak harus dilakukan biopsi untuk konfirmasi diagnosis. Apabila ditemukan gejala-gejala yang berhubungan dengan metastasis maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan seperti sistoskopi dan sigmoidoskopi. Pemeriksaan foto toraks dan evaluasi fungsi ginjal sangat dianjurkan. Stadium awal karsinoma serviks invasif adalah stadium IB sampai IIA (< 4cm). Stadium ini memiliki prognosis yang baik apabila diterapi dengan operasi atau radioterapi. Angka kesembuhan dapat mencapai 85% sampai 90% pada pasien dengan massa yang kecil. Ukuran tumor merupakan faktor prognostik yang penting untuk kesembuhan atau angka harapan hidup 5 tahunnya (Anonim3, 2006).

Penelitian kontrol acak selama 5 tahun mendapatkan bahwa radioterapi atau operasi menunjukkan angaka harapan hidup 5 tahunan yang sama dan tingkat kekambuhan yang sama-sama kecil untuk terapi karsinoma serviks stadium dini. Morbiditas terutama meningkat apabila operasi dan radiasi dilakukan bersama-sama. Namun, pemilihan pasien dengan penegakkan stadium yang baik dibutuhkan untuk menentukan terapi operatif. Jenis operasi yang dianjurkan untuk stadium IB dan IIA (dengan massa < 4cm) adalah modified radical hysterectomy atau radical abdominal hysterectomy disertai limfadenektomi selektif. Setelah dilakukan pemeriksaan patologi anatomi pada jaringan hasil operasi dan bila didapatkan penyebaran pada kelenjar limfe paraaorta atau sekitar pelvis maka dilakukan radiasi pelvis dan paraaorta. Radiasi langsung dilakukan apabila besar massa mencapai lebih dari 4 cm tanpa harus menunggu hasilpatologi anatomi kelenjar limfe (Anonim4, 2006).

Penelitian kontrol acak menunjukkan bahwa pemberian terapi sisplatin yang bersamaan dengan radioterapi setelah operasi yang memiliki invasi pada kelenjar limfe, parametrium, atau batas-batas operatif menunjukkan keuntungan secara klinis. Penelitian dengan berbagai dosis dan jadwal pemberian sisplatin yang diberikan bersamaan dengan radioterapi menunjukkan penurunan risiko kematian karena kanker serviks sebanyak 30-50%. Risiko juga meningkat apabila didapat ukuran massa yang lebih dari 4 cm walaupun tanpa invasi pada kelenjar-kelenjar limfe,infiltrasi pada kapiler pembuluh darah, invasi di lebih dari 1/3 stroma serviks. Radioterapi pelvis adjuvan akan meningkatkan kekambuhan lokal dan menurunkan angka progresifitas dibandingkan tanpa radioterapi (Berkowitz, 1996).

™ Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Lanjut

Ukuran tumor primer penting sebagai faktor prognostik dan harus dievaluasi dengan cermat untuk memilih terapi optimal. Angka harapan hidup dan kontrol terhadap rekurensi lokal lebih baik apabila didapatkan infiltrasi satu parametrium dibandingkan kedua parametrium. Pengobatan terpilih adalah radioterapi lengkap, dilanjutkan penyinaran intrakaviter. Terapi variasi yang diberikan biasanya beruapa pemberian kemoterapi seperti sisplatin, paclitaxel, 5-fluorourasil, docetaxel, dan gemcitabine. Pengobatan bersifat paliatif bila stadium mencapai staidum IVB dalam bentuk radiasi paliatif (Anonim5, 2006).

  1. 8. Prognosis

Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira – kira 50%, dan untuk stadium IV kurang dari 30% (Garcia, 2006).

a.  Stadium 0

100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh.

b.   Stadium 1

Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi 2, IA dan IB. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%.  Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka.

c.  Stadium 2

Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar 70 – 90%. Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%.

d.  Stadium 3

Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%.

e.  Stadium 4

Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%.

  1. 9. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostic kanker serviks dapat dilakukan dengan cara, yaitu (Askep, 2008):

  • Sitologi/Pap Smear

Pap smear test adalah suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim. Test ini ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolou, sehingga dinamakan Pap smear test. Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Perubahan sel-sel leher rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker. Keuntungan Pap smear test adalah murah serta dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. Namun test ini juga memiliki kelemahan, yaitu tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi

  • Schillentest

Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna (Askep, 2008).

  • Koloskopi

Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Kolposkopi adalah suatu prosedur pemeriksaan vagina dan leher rahim oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Dengan memeriksa permukaan leher rahim, dokter akan menentukan penyebab abnormalitas dari sel-sel leher rahim seperti yang dinyatakan dalam pemeriksaan ‘Pap Smear’. Cara pemeriksaan kolposkopi adalah sebagai berikut: dokter akan memasukkan suatu cairan kedalam vagina dan memberi warna saluran leher rahim dengan suatu cairan yang membuat permukaan leher rahim yang mengandung sel-sel yang abnormal terwarnai.. Kemudian dokter akan melihat kedalam saluran leher rahim melalui sebuah alat yang disebut kolposkop. Kolposkop adalah suatu alat semacam mikroskop binocular yang mempergunakan sinar yang kuat dengan pembesaran yang tinggi (Riyono, 1999).

Keuntungan pemeriksaan koloskopi adalah dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy, sedangkan kelemahannya adalah hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat (Askep, 2008).

  • Kolpomikroskopi

Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali (Askep, 2008).

  • Biopsi

Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya (Askep, 2008).

  • Konisasi

Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas (Askep, 2008).

  1. 10. Pengobatan dan Pencegahan

Terapi karsinoma serviks dilakukan bilamana diagnosis telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (tim kanker/tim onkologi). Berbagai terapi kanker serviks antara lain (Anonim, 2008) :

  • Irradiasi

Irradiasi dapat dipakai untuk semua stadium, untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk serta tidak menyebabkan kematian seperti operasi.

  • Dosis
    Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak di serviks
  • Komplikasi irradiasi

Kerentanan kandungan kencing, Diarrhea, Perdarahan rectal dan Fistula vesico atau rectovaginalis

\

  • Operasi

Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II,serta Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal

  • Kombinasi

Irradiasi dan pembedahan. Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.

  • Cytostatika

Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.

Pencegahan

Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning dan pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini sudah mulai menurun berkat adanya program deteksi dini melalui pap smear. Vaksin HPV akan diberikan pada perempuan usia 10 hingga 55 tahun melalui suntikan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan ke nol, satu, dan enam (Wikipedia). Pemberian vaksin anti HPV yang mampu memberikan perlindungan terhadap HPV resiko tinggi (tipe 16 dan 18) penyebab utama kanker serviks. Vaksin anti HPV ini juga mampu memberikan perlindungan terhadap HPV resiko rendah (tipe 6 dan 11) penyebab genital warts atau kutil di daerah kelamin (Debby, 2008). Dari penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa respon imun bekerja dua kali lebih tinggi pada remaja putri berusia 10 hingga 14 tahun dibanding yang berusia 15 hingga 25 tahun (Anonim, 2008).

B.TINJAUAN TENTANG DIET PENYAKIT KANKER

  1. a. Gambaran Umum

Gangguan gizi yang dapat timbul pada pasien penyakit kanker disebabkan kurangnya asupan makanan, tindakan medk, efek psikologik, dan pengaruh keganasan sel kanker. Gejala kanker dalam keadaan berat dinamakan cachexia yang manifestasinya secara klinis adalah anoreksia, penurunan berat badan, gangguan refleks, lemah, anemia, kurang energy protein, dan keadaan deplesi secara keseluruhan (Almatsier, 2004).

Beberapa factor penyebab gangguan gizi yang dapat timbul pada penyakit kanker adalah (Almatsier, 2004):

i.        Kurang nafsu makan yang disebabkan oleh factor psikologik dan lost response terhadap kanker berupa cepat kenyang atau perubahan pada indra pengecap (lidah).

ii.        Gangguan asupan makanan dan gangguan gizi karena:

ü  Gangguan pada saluran cerna, dapat berupa kesulitan mengunyah, menelan, dan penyumbatan

ü  Gangguan absorpsi zat gizi

ü  Kehilangan cairan dan elektrolit karena munta-muntah dan diare

iii.      Perubahan metabolism protein, karbohidrat, dan lemak

iv.      Peningkatan pengeluaran energi

b. Tujuan Diet

Tujuan Diet Penyakit Kanker adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan cara (Almatsier, 2004) :

  1. Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit serta daya terima pasien
  2. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara berlebihan
  3. Mengurangi rasa mual, muntah, dan diare
  4. Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan pasien dan keluarganya

c. Syarat Diit

Syarat Diit Penyakit Kanker adalah (Almatsier, 2004):

  1. Energi tinggi, sesuai dengan kebutuhan.
  2. Protein tinggi, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total.
  3. Lemak cukup, yaitu 20-30% dari kebutuhan energy total.
  4. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energy total
  5. Vitamin dan mineral cukup, sesuai kebutuhan normal. Terutama vitamin A, B kompleks, C dan E. Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen
  6. Rendah iodium bila sedang menjalani medikasi radioaktif internal
  7. Bila imunitas menurun (leukosit < 10 ul) atau pasien akan menjalani kemoterapi agresif, pasien harus mendapat makanan yang steril
  8. Porsi makan kecil dan sering diberikan

4. Jenis Diit dan Indikasi Pemberian

Jenis diet untuk pasien penyakit kanker sangat tergantung pada keadaan pasien, perkembangan penyakit, dan kemampuan untuk menerima makanannya. Oleh sebab itu, diet hendaknya disusun secara individual. Jenis makanan atau diet yang diberikan hendaknya memperhatikan nafsu makan, perubahan indra kecap, rasa cepat kenyang, mual, penurunan berat badan, dan akibat pengobatan. Sesuai dengan keadaan pasien, makanan dapat diberikan secara oral, enteral, maupun paraenteral. Makanan dapat diberikan dalam bentuk Makanan Padat, Makanan Cair, atau kombinasi. Untuk Makanan Padat dapat berbentuk Makanan Biasa, Makanan Lunak, atau Makanan Lumat (Almatsier, 2004).

5. Pedoman Untuk Mengatasi Masalah Makan

1.  Bila pasien menderita anoreksia

a)  Dianjurkan makan makanan yang disukai atau dapat diterima walaupun tidak lapar

b)  Hindari minum sebelum makan

c)  Tekankan bahwa makan adalah bagian penting dalam program pengobatan

d)  Olahraga sesuai dengan kemampuan penderita

2.  Bila ada perubahan pengecapan

a)  Makanan atau minuman diberikan dengan suhu kamar atau dingin

b)  Tambahkan bumbu makanan yang sesuai untuk menambah rasa

c)  Minuman diberikan dalam bentuk segar seperti sari buah atau jus

3.  Bila ada kesulitan mengunyah atau menelan

a)  Minum dengan menggunakan sedotan

b)  Makanan atau minuman diberikan dnegan suhu kamar atau dingin

c)  Bentuk makanan disring atau cair

d)  Hindari makanan terlalu asam atau asin

4.  Bila mulut kering

a)  Makanan atau minuman diberikan dengan suhu dingin

b)  Bentuk makanan cair

c)  Kunyah permen karet atau hard candy

5.  Bila mual dan muntah

a)  Beri makanan kering

b)  Hindari makanan yang berbau merangsang & berlemak tinggi

c)  Makan dan minum perlahan-lahan

d)  Hindari makanan atau minuman terlalu manis

e)  Batasi cairan pada saat makan

f)   Tidak tiduran setelah makan

BAB  V

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Monitoring
  2. 1. Monitoring Diet Pasien

Hasil anamnesis menunjukan pasien menderita kanker serviks IV A dan sedang menjalani kemoterapi. Untuk memenuhi kebutuhan pasien sesuai dengan keadaan dan penyakit maka pasien diberikan ”Diit Kanker (TP)”.

Jenis diit ini mengandung energi sebesar 1884,42 kkal, protein yang diberikan yaitu 20% (94,22 gr), lemak 20  % dari total energi (41,88  gr), karbohidrat merupakan sisa dari protein dan lemak sebesar 60% dari total energi (282,66 gr). Diit pasien diberikan dalam bentuk makanan biasa, pertimbangan pemberian bentuk diit ini dikarenakan pasien masih dalam kondisi kesadaran penuh (composmentis) dan tidak mengalami gangguan mengunyah dan menelan pada daerah mulut dan esofagus.

Berdasarkan hasil monitoring asupan makanan selama studi kasus berlangsung, didapatkan data asupan makanan pasien dalam bentuk zat gizi seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 9. Distribusi Hasil Monitoring Asupan Makanan Pasien

HARI URAIAN ASUPAN ZAT GIZI
E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
Sebelum Intervensi 

08/11/10

Asupan 1870,9 62,58 29,6 335
Kebutuhan 1884,4 41,88 31,4 306
% Asupan 99,28 149,4 94,3 109

09/11/10

Asupan 1721,9 58,58 33,6 292
Kebutuhan 1884,4 41,88 31,4 306
% Asupan 91,37 62,18 80,2 103
II 

10/11/10

Asupan 1750,1 60,41 22,3 324
Kebutuhan 1884,4 41,88 31,4 306
% Asupan 92,87 64,12 53,1 115
III 

11/11/10

Asupan 1800,5 64,38 23,6 327
Kebutuhan 1884,4 41,88 31,4 306
% Asupan 95,55 68,33 56,4 116

Sumber : Data Primer Terolah, 2010

Grafik 1. Distribusi Hasil Monitoring Asupan Makanan Pasien

Berdasarkan tabel 9 dan grafik 1 diatas, dapat diketahui bahwa asupan energi dan zat gizi pasien pada intervensi hari pertama adalah: energi 91,37%, protein 62,18%, lemak 80,2%, karbohidrat 103%. Pada intervensi hari kedua: energi 92,87%, protein 64,12%, lemak 53,1%, karbohidrat 115%. Dan pada intervensi hari terakhir : energi 95,55%, protein 68,33%, lemak 56,4%, dan karbohidrat 116%.

Dapat dilihat dari grafik dimana asupan karbohidrat dari hari 1 hingga hari 3 mengalami peningkatan berbanding terbalik dengan asupan lemak yang mengalami penurunan. Sedangkan pada asupan protein mengalami penurunan hanya pada hari 2 dan kembali mengalami peningkatan di hari 3. Dari hasil  monitoring pasien ini dapat di simpulkan bahwa nafsu makan pasien masih sangat baik terbukti dengan terpenuhinya kebutuhan energi walaupun asupan makanan belum seimbang dimana persentase asupan karbohidrat lebih tinggi dari persentase asupan lemak dan protein.

Dari hasil wawancara mengenai food frekuensi, pasien selama ini didapatkan hasil pasien mengonsumsi Nasi= 3x/hari, sekali makan 350-400 gr, Ikan= 3x/hari, sekali makan 1 ptg sdg, Sayur=3x/hari, suka makan sayur daun-daunan. Berdasarkan hasil tersebut didapati adanya asupan energi diatas kebutuhan dengan domain intake NI.1.5.

3. Monitoring Pengukuran Antropometri

Tabel 10. Distribusi Perkembangan Data Antropometri Pasien

Parameter Sebelum Intervensi Akhir Intervensi
BB (kg) 60 60
TB (cm) 155 155
Status Gizi Obesitas 1 Obesitas 1

Sumber : Data Primer Terolah, 2010

Dari table 10 Berdasarkan hasil monitoring berat badan pasien sebelum dan intervensi tidak terjadi perubahan berat badan karena asupan makanan pasien tidak mengalami perubahan yang signifikan. Karena tidak terjadi perubahan berat badan pasien, maka tidak terjadi pula perubahan status gizi pasien yaitu berada pada status gizi Obesitas.

  1. 2. Monitoring Pemeriksaan Fisik/Klinik

Tabel 11. Distribusi Perkembangan Fisik dan Klinis Pasien

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
08/11/2010 09/11/2010 10/11/2010 11/11/2010
Kesadaran Sadar Sadar Sadar Sadar
Keadaan umum Baik Baik Baik Baik
Tekanan Darah 100/70 mmHg
Nafas 20 x/mnt
Suhu 36,6oC
Nadi 80 x/mnt
BAK Lancar Lancar Lancar Lancar
BAB Biasa Biasa Biasa Perkateter

Sumber : Data Sekunder Terolah, 2010

Dari table 11 diketahui bahwa pasien tidak memiliki masalah menyangkut fisik dan klinisnya. Seluruh hasil pemeriksaan keadaan umum pasien, tekanan darah, respirasi, suhu, nadi, BAK dan BAB berada pada keadaan normal (meskipun pada hari 3 pasien menggunakan kateter untuk BAK), sehingga tidak terdapat diagnosis gizi mengenai perkembangan fisik dan klinis pasien ini.

  1. 3. Monitoring Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 12. Distribusi Perkembangan Pemeriksaan Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal
Sblm Intervensi Intervensi
08/11/10 0911/10/10
GDS 

Ureum

SGOT

SGPT

Hb

Albumin

121 mg/dl 

22 mg/dl

52 u/l

31  u/l

11,7 g/dL

2,2 gr/dL

 

– 

 

< 140 mg/dl 

10-50 mg/dl

< 32 u/l

< 31 u/l

12-14 gr/dl

3,5-5,5 gr/dl

 

Sumber : Data Sekunder Terolah, 2010

Dari table 12 diketahui bahwa pasien memiliki kadar HB dan Albumin mengalami penurunan dan kadar SGOT mengalami peningkatan. Dari hasil  pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya perubahan nilai laboratorium terkait zat gizi dengan domain klinik NC.2.2. Dan belum didapati perubahan hasil laboratorium selama dan setelah intervensi karena pasien belum melakukan pemeriksaan laboratorium lagi.

B. Hasil Motivasi Diet Pasien

  1. 1. Perkembangan Pengetahuan Gizi

Pada intervensi hari pertama, pasien dan anggota keluarga yang lain (anak perempuan) diberikan edukasi mengenai diet kanker dalam hal ini mengenai bahan-bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan bagi penderita kanker khususnya kanker serviks IVA.

Pasien juga diberitahu mengenai tujuan dari diet kanker ini yaitu, mempertahankan status gizi normal pada pasien, member makanan secukupnya dan mudah dicerna, mempercepat proses penyembuhan dan mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.

Dengan adanya penambahan informasi ini, membuat pasien dan keluarganya menjadi paham tentang bahan-bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan bagi penderita kanker serviks khususnya kanker serviks IVA.

  1. 2. Sikap Dan Perilaku Terhadap Diet

Dengan bertambahnya pengetahuan keluarga pasien maka terjadi perubahan sikap dan perilaku pasien ditandai dengan pasien tetap menjaga nafsu makan msekipun asupan makanan belum seimbang.

C. Evaluasi Asuhan Gizi Pasien

  1. 1. Konsumsi Energi Dan Zat Gizi

Hasil monitoring evaluasi asupan energi dan zat gizi selama studi kasus didapatkan data bahwa asupan makanan pasien tidak  mengalami perubahan yang signifikan. Pada recall sebelum intervensi asupan energi sebesar 99,28%, protein 149,4%, lemak 94,3%, karbohidrat 109%. Pada hari pertama intervensi asupan energi  91,37%, protein 62,18%, lemak 80,2%, karbohidrat 103%. Pada hari kedua intervensi asupan energi  92,87%, protein 64,12%, lemak 53,1%, karbohidrat 115%. Pada terakhir intervensi asupan energi 95,55%, protein 68,33%, lemak 56,4% dan karbohidrat 116%.

  1. 2. Evaluasi Status Gizi

Status gizi pasien belum mengalami perubahan hal ini disebabkan kegiatan intervensi yang hanya berlangsung selama tiga hari saja. Sebagaimana kita ketahui, bahwa peningkatan berat badan sangat dipengaruhi oleh kualitas, dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi minimal selama 7 hari.

  1. 3. Perkembangan Pengobatan Yang Berhubungan Dengan Gizi

Pengobatan yang berhubungan dengan gizi tidak terpantau selama studi kasus dilaksanakan.

  1. 4. Perkembangan Terapi Diet

Terapi diet selama studi kasus berlangsung tidak mengalami perubahan yaitu tetap menggunakan diet kanker dengan kebutuhan energi sebesar 1884,42 kkal, protein sebanyak 41,88 gr, lemak sebanyak 31,41 gr, dan karbohidrat sebanyak 306 gr. Pasien diberikan terapi Diet Kanker (TP) bukan TKTP  karena satatus gizi pasien berada diatas nilai normal, pemberian makanan dengan konsistensi biasa, pemberian secara oral dengan frekuensi pemberian 3 kali makanan pokok dan 2 kali selingan.

BAB  VI

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan
  2. Berdasarkan data subyektif dan obyektif yang ada, pasien didiagnosa menderita karsinoma serviks IVA.
  3. Pasien status gizi Obesitas 1 dengan IMT 25.
  4. Jenis diet yang diberikan adalah Diet Kanker (TP) dengan konsistensi makanan biasa, pemberian secara oral dengan frekuensi 3 kali makanan pokok dan 3 kali makanan selingan.
  5. Asupan makanan pasien selama intervensi mengalami sedikit perubahan dan dapat memenuhi kebutuhan energi walaupun asupan zat gizi makro kurang seimbang.
  6. Diagnosis gizi yang diberikan adalah intake energi diatas kebutuhan NI. 1.5 dan perubahan nilai laboratorium NC 2.2.
    1. B. Saran
      1. Terapi diet dan edukasi gizi harus terus dlakukan untuk memberikan motivasi pada pasien dan keluarganya.
      2. Pemeriksaan antropometri, fisik-klinis dan laboratorium harus tetap dipantau untuk melakukan identifikasi masalah gizi sedini mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Anonim1, 2009. Kanker Serviks. (http://medlinux.blogspot.com/2009/02/kanker-serviks.html). Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Anonim, 2008.Kanker Serviks. (http://cresoft.wordpress.com/2008/04/19/kanker-serviks/). Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Anonim1, 2008. Kanker Leher Rahim. (http://www.infopenyakit.com/2008/07/penyakit-kankerleher-rahim-serviks.html). Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Anonim2,2006. Kanker Leher Rahim (Serviks). (http://medicastore.com/penyakit/104/Kanker_Leher_Rahim_serviks.html). Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Anonim3, 2006. Kanker Leher Rahim. www.medicastore.com. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Anonim4, 2006. Bahaya Kanker Serviks Bagi wanita. www.kesrepro.info. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Anonim5. 2008. Kanker Leher Rahim. http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker_leher_rahim. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Askep. 2008. Kanker Serviks. http://indonesiannursing.com/2008/07/26/kanker-serviks/. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Aziz F, Nugroho K, dan Ratna S S., 1985. Karsinoma serviks Uterus.Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UI. Jakarta: RS dr. Ciptomangunkusumo.

Berkowitz RS, Goldstein DP. Chorionic Tumors. 1996; 335 : 1740 – 1748. Rose PG, Bundy BN, Watkins ET, et.al. Concurrent cicplatin-based radiotherapy and chemotherapy for locally advanced cervical cancer. The New England Journal of Medicine 1999;49: 1144-53.

Garcia , Agustin , 2006. Cervical Cancer. www.emedicine.com. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Mansyoer, Arif dkk, 2008. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Murtiningsih. 2010. Kanker Leher Rahim. http://www.reliance-insurance.com. Diakses pada tanggal 14 November 2010

Putri, Henny. 2005. Manajemen Karsinoma Serviks, Referat, Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM – RS dr. Sardjito Yogyakarta.

Riyono, 1999, Kanker Leher Rahim. http://dokter.indo.net.id/serviks.html. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

Yustini, DCN, M.Kes., 2009. Translate International Dietetic & nutrition Terminology (IDTN) Reference Manual. Makassar : Instalasi Gizi RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Posted in Laporan/Tugas Kuliah | Leave a comment

Penemuan Jadi tapi Gagal??????

Abad ke-20 ditandai dengan sejumlah penemuan-penemuan hebat yang mengubah kehidupan manusia. Ada penemuan mobil canggih, juga internet. Di abad tersebut manusia bahkan mampu menjejakkan kakinya ke Bulan. Namun, tak semua penemuan itu layak dimasukkan dalam buku sejarah. Sebab, beberapa temuan dinyatakan gagal, bahkan konyol. Apa saja temuan yang masuk kategori tak berguna itu?

1. TV Kacamata, 1963. Penemu, Hugo Gernsback memakai kacamata TV, produk itu tak pernah dirilis.

2. Papan seluncur bermotor. Penemu asal Hollywood, Joe Gilpin mengendarai papan luncur bermotor pada 1948.

3. Kandang bayi berkawat yang diletakkan di luar jendela. Seorang pengasuh bayi mengawasi bayi yang dimasukkan dalam kandang kawat yang berada di luar jendela gedung tinggi pada tahun 1937. Kandang ini dibagikan pada anggota Chelsea Baby Club di London yang tak memiliki taman atau yang tega menempatkan bayi mereka di atas jalanan yang ramai.

4. Payung rokok antihujan. Presiden Zeus Corp, Robert L. Stern, menggunalan payung rokok yang ia rancang sendiri pada 1954. Tak bakal basah walau hujan.

5. Elektrometer Hubbart. Penulis fiksi ilmiah dan pendiri gereja aliran Scientology, L. Ron Hubbard menggunakan elektrometer Hubbard untuk mencari tahu apakah tomat merasakan sakit pada tahun 1968. Apa yang ia lakukan berujung pada kesimpulan: ‘tomat menjerit saat dipotong’.

6. Robot penembak. Sebuah robot yang dilengkapi dengan senapan diadu dengan penembak manusia pada 1960. Ini menimbulkan banyak pertanyaan, bijaksanakah melengkapi robot dengan pistol.

Posted in Iseng..... | Leave a comment

Hello world!

Akhirnya bisa punya blog juga…….

3 hal yang buat gw pengen bgt punya blog:

1. Ikut-ikutan

Awalnya sih cuma liat temen yang doyan nulis trus bikin blog……

daripada di  bilang gaptek (Oops ketahuan)  mending gw ikutan bikin jga……..

yg paling bikin gw iri nama temen gw bisa masuk dalam daftar pustaka di laporan junior gitu coz juniorx ambil bahan dari blog.,jdinya gw pengen jga……

2. dijadiin gudang……

yupz……selain tempat buat cuap-cuap, gw juga nyimpan tgas2 di blog ini………

maslah gw dah berulang kali jadi korban kekejaman virus yang merajalela di kompter ma FD.,blum klo FDx iktan ilang……

waduh bisa berabe………sekalian gitu tau aja ada org nyasar ambil data di blog gw jadinya nama gw bisa kecantum deh di dapus  (ngarep mode on :D)….

3. Ini yang paling penting………

Jujur.,gw ini org yang doyan banget ambil data dari blog coz isi oke2 sih…dah gitu biasannya pas banget ma yg gw cari……

Jdi pengen aja gitu jadi org yang sedikit berguna bagi orang lain (angel mode on)……….

thanks

Posted in Iseng..... | 1 Comment